Pengakuan Polos Bunga Check In Bareng Pacar di Apartemen Saladin Depok: Katanya Nonton Netflix
- Istimewa
Siap – Sejumlah warga pemilik unit Apartemen Saladin Mansion, Depok, Jawa Barat menggelar aksi protes, menolak adanya dugaan praktik prostitusi terselubung di kawasan tersebut.
Tak hanya itu, warga juga melontarkan sejumlah tuntutan, di antaranya soal kejelasan surat Akta Jual Beli atau AJB.
Ketua Aliansi Warga Pemilik Unit Apartemen Saladin Mansion, Guswandri mengatakan, selama ini pihaknya hanya memiliki Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB).
"Prioritas (tuntutan) kita adalah AJB, karena sudah 11 tahun kita di-PHP terus, di mana selama ini kita hanya punya PPJB," katanya saat memimpin aksi unjuk rasa di halaman apartemen tersebut pada Selasa, 2 Juni 2026.
Menurut Guswandri, PPJB hanyalah perjanjian pra jual beli, sedangkan hak yang sebenarnya adalah AJB.
Namun sampai saat ini pihak pengelola, yakni PT Wangsa Property belum menunaikan kewajibannya.
"Padahal kita tuh sudah lunas, 1.200 unit ini sudah lunas pembayarannya. Rata-rata Rp150 juta tuh ada Rp380 miliar, duitnya sudah diterima pengembang, tapi kewajiban dia ke kita tidak ada sama sekali, diabaikan 11 tahun. Nah, ini yang jadi prioritas kita untuk kita menekan," jelasnya.
Aksi protes warga pemilik unit Apartemen Saladin Depok
- Istimewa
Ia juga mengaku telah beberapa kali melapor ke Wali Kota Depok dan DPRD namun nyatanya hak konsumen masih diabaikan oleh pihak pengelola.
"Dan kita belum pernah bertemu dengan developer untuk duduk bareng menyelesaikan masalah ini gitu."
Selain tuntutan tersebut, pemilik unit apartemen juga mengeluhkan adanya dugaan prostitusi terselubung dengan modus sewa kamar jam-jaman.
"Terus terang kami resah dengan masalah prostitusi."
Aksi protes warga pemilik unit Apartemen Saladin Depok
- Istimewa
Menurut Guswandri, praktik mesum tersebut telah membuat citra Apartemen Saladin Mansion Margonda Depok ini menjadi sangat buruk. Hal itu berimbas pada penjualan unit.
"Jadi ini salah satu efeknya, akhirnya penyewa yang orang baik-baik takut untuk tinggal di sini, sehingga apartemen ini menjadi kosong gitu, tidak terjual gitu, tingkat huniannya rendah gitu," beber dia.
Ia dan warga penghuni apartemen lainnya telah berulang kali melaporkan kasus ini, namun pihak manajemen terkesan acuh.
Lebih lanjut Guswandri mengatakan, para pelaku prostitusi terselubung ini kian marak terutama di jam-jam malam.