Israel Makin "Ugal ugalan" Yordania Siap Angkat Senjata, Gaza Adalah Garis Merah yang Tidak Bisa Diganggu Gugat?
- Istimewa
Siap –Ditengah gencarnya ancaman Amerika Serikat dan agresi militer Israel yang ugal ugalan ditengah perundingan damai yang kini menemui jalan buntu, Pemerintah Yordania mendadak membuat pernyataan mengejutkan.
Pemerintah Yordania menyatakan kesiapannya untuk menyatakan perang terhadap Israel. Pemicunya bukanlah sengketa wilayah atau sumber daya air, melainkan nasib rakyat Palestina.
Laporan Middle East Eye (MEE) mengungkapkan bahwa Amman akan menganggap segala upaya Israel untuk secara paksa mengusir warga Palestina ke wilayah Yordania sebagai 'casus belli' tindakan yang membenarkan deklarasi perang.
Peringatan ini muncul di tengah tekanan berulang kali dari Presiden AS Donald Trump yang ingin melihat Yordania dan Mesir menerima warga Palestina yang terusir, sebagai bagian dari rencana yang kontroversial untuk 'membersihkan' Jalur Gaza.
Bagi Yordania, ini bukan sekadar soal politik luar negeri.
Kata "casus belli" bukanlah istilah yang biasa digunakan dalam diplomasi Yordania yang cenderung tenang dan moderat.
Penggunaannya menunjukkan tingkat keparahan yang ekstrem. Sumber-sumber terpercaya di Amman dan Yerusalem mengatakan kepada MEE bahwa hal terakhir yang diinginkan Yordania adalah perang.
Mereka sangat menginginkan solusi damai.
Namun, mereka bersikeras: perbatasan akan ditutup jika pengungsi mulai menyeberang.
Jika Israel berusaha membuka paksa perbatasan yang telah ditutup itu, maka 'casus belli' akan diaktifkan.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Yordania, Jenderal Yousef Huneiti, baru-baru ini menegaskan dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi bahwa negaranya tidak akan pernah menjadi pihak dalam pengusiran paksa rakyat Palestina.
Untuk memperkuat pesan ini, Yordania sebelumnya telah mengirim batalion tambahan ke perbatasan baratnya.
Langkah ini diambil menyusul pernyataan tegas bahwa segala upaya untuk memaksa warga Palestina menyeberangi perbatasan akan dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap perjanjian damai 1994.
Israel, sebagai respons, dilaporkan telah membentuk divisi timur baru untuk menjaga perbatasannya dengan Yordania.
Ketegangan di perbatasan meningkat, mengubah zona penyangga damai menjadi garis depan yang berbahaya.