Trump Marah Besar Gegara Netanyahu 'Bakar Surat Perundingan' Iran, Israel Tak Biarkan AS Damai
- Tangkapan layar YouTube Odisha tv
Siap – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump marah besar terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu lantaran dianggap dapat menggagalkan proses negosiasi perdamaian dengan Iran.
Pengamat Timur Tengah Hasibullah Satrawi, mengatakan bahwa ada perkembangan yang menarik terkait kondisi saat ini.
"Saya ingin berangkat dari perkembangan terbaru dan menurut saya ini perkembangan yang sangat penting, yaitu terkait dengan perkembangan di Libanon," katanya dikutip dari kanal YouTube tv One pada Selasa, 2 Juni 2026.
Menurut informasi yang beredar, Israel telah berhasil menduduki Kastil Beaufort atau Benteng Shaqif.
Itu adalah salah satu tempat yang itu mempunyai nilai historis secara politik.
Netanyahu kemudian mengklaim keberhasilan tersebut sebagai simbol kemenangan perang besar yang dilakukan oleh Israel.
"Saya secara pribadi menganggap ini sebagai fase kesembilan dari perang panjang sejak 28 Februari yang substansi-substansinya nanti akan saya sampaikan," tuturnya.
Menurut Satrawi, perkembangan yang terjadi saat ini sangatlah penting.
"Satu, kita tahu akibat daripada perkembangan yang terbaru di Libanon. Maka kemudian Iran dalam sikap yang terbaru beberapa jam terakhir, menyatakan menghentikan surat-menyurat dengan Amerika," jelasnya.
Ia mengatakan, bahwa surat menyurat antara Teheran dengan Washington cukup intensif dan bahkan baru-baru ini telah mengantarkan kepada fase yang dianggap sangat optimistis.
"Karena kedua belah pihak mencapai kemajuan-kemajuan, ya walaupun masih ada beberapa catatan, terutama dari Trump yang akhirnya dikembalikan kembali untuk sebuah pematangan," tuturnya.
Namun apa yang dilakukan Israel dapat mengubah keadaan menjadi semakin rumit.
"Nah, kalau Iran lanjut dengan sikap berhenti daripada surat-menyurat ini, maka ini tentu menjadi sebuah pukulan telak bagi proses perundingan, bagi proses mediasi."
Karena, menurut Satrawi Iran bisa saja menghentikan proses perundingan sebagai bentuk protes sangat keras kepada Israel.
"Saya mengatakan yang terjadi di Libanon itu seperti upaya Netanyahu membikin sulutan di dalam kertas perundingan yang sedang dibangun antara Amerika dengan Iran," ujarnya.
"Kalau tidak disikapi dengan seksama, bukan tidak mungkin aksi Israel di Libanon akan membuyarkan, akan menghanguskan kertas-kertas perundingan, paper-paper perundingan yang telah disusun di revisi di antara Iran dengan Amerika," sambungnya.