Iran Siapkan “Hari Pembalasan”, Ancaman IRGC Kini Mengarah hingga Eropa
- Kolase Siap.viva
Siap – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah muncul laporan serangan terbaru di wilayah Bandar Abbas, Republik Islam.
Amerika Serikat disebut kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan melakukan serangan militer di tengah berlangsungnya upaya perundingan damai.
Langkah itu langsung memicu respons keras dari Teheran.
Menurut berbagai laporan media Republik Islam, Pasukan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC mengklaim berhasil menggagalkan rudal jelajah siluman milik Amerika Serikat tipe AGM-158 JASSM.
Rudal tersebut dikenal sebagai salah satu senjata presisi jarak jauh paling canggih yang dimiliki militer Amerika Serikat.
“Amerika Serikat (AS) kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan melakukan serangan ke wilayah Republik Islam. Sama seperti sebelumnya, agresi ini pun terjadi di tengah upaya perundingan damai.”
“Dikutip dari berbagai sumber, Pasukan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC dikabarkan berhasil mencegah rudal jelajah berteknologi siluman milik Amerika Serikat tipe AGM 158 JASSM.”
AGM-158 JASSM merupakan rudal jelajah berteknologi rendah radar atau stealth yang dirancang untuk menghancurkan target bernilai tinggi.
Rudal itu mampu membawa hulu ledak besar dan menyerang sasaran dari jarak jauh dengan akurasi tinggi.
“Serangan rudal berbahan peledak setengah ton ini dirancang untuk menghancurkan target bernilai tinggi dan terlindungi.”
Republik Islam menyebut serangan tersebut merupakan bagian dari agresi beruntun Amerika Serikat terhadap wilayah Bandar Abbas.
Kota pelabuhan strategis itu memiliki posisi sangat penting bagi pertahanan dan perdagangan Republik Islam.
Bandar Abbas juga menjadi salah satu titik utama aktivitas angkatan laut Republik Islam di Teluk Persia.
“Menurut informasi yang berhasil dihimpun, agresi ini merupakan serangan beruntun yang dilakukan Amerika Serikat ke Pelabuhan Bandar Abbas, Iran.”
Hingga kini, belum ada konfirmasi independen terkait tingkat kerusakan maupun keberhasilan Republik Islam mencegat rudal tersebut.
Namun ketegangan politik dan militer antara kedua negara memang meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Amerika Serikat terus memperkuat kehadiran militer di kawasan Teluk.
Sementara Republik Islam meningkatkan kesiapan tempur pasukan IRGC dan sistem pertahanan rudalnya.