Iran Siaga Perang Total, Komandan IRGC Ancam Serangan hingga Eropa!
- Kolase Siap.viva
Siap – Iran kembali membuktikan ancamannya dengan meluncurkan serangan balasan terhadap Amerika Serikat (AS) setelah agresi militer yang terjadi di tengah upaya perundingan damai kedua negara.
Konflik terbaru itu langsung memicu kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi perang regional yang lebih luas di Timur Tengah.
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC mengonfirmasi bahwa serangan balasan dilakukan setelah pasukan Amerika Serikat menyasar aset strategis Iran di kawasan Bandar Abbas.
Wilayah Bandar Abbas sendiri dikenal sebagai salah satu titik paling penting bagi militer Republik Islam karena berada di dekat Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Dilansir dari kantor berita IRNA, IRGC menegaskan bahwa tidak ada agresi yang akan dibiarkan tanpa balasan.
Sebagai respons atas serangan Amerika Serikat, IRGC kemudian meluncurkan operasi militer ke pangkalan udara Amerika sekitar pukul 04.50 waktu setempat.
"Respons ini merupakan peringatan serius agar musuh tahu bahwa agresi tidak akan dibiarkan tanpa balasan, dan jika diulangi, militer Republik Islam akan merespons dengan lebih tegas," kata IRGC.
IRGC juga menegaskan bahwa seluruh konsekuensi dari eskalasi konflik menjadi tanggung jawab pihak yang memulai agresi.
Pernyataan keras tersebut muncul saat ketegangan antara Republik Islam, Amerika Serikat, dan Israel terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Republik Islam menilai Washington dan Tel Aviv masih terus menjalankan strategi tekanan militer terhadap Teheran meski jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Situasi itu membuat Iran mulai mempersiapkan berbagai skenario perang lanjutan.
Sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Sayyid Mojtaba Khamenei, juga telah memperingatkan Amerika Serikat terkait konsekuensi dari tindakan militernya di kawasan.
"Amerika Serikat tidak hanya tidak akan lagi memiliki tempat berlindung yang aman untuk kejahatannya dan untuk mendirikan pangkalan militer di wilayah tersebut, tetapi hari demi hari, ia semakin menjauh dari statusnya yang dulu."
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Republik Islam tidak lagi ingin menunjukkan sikap defensif seperti pada fase-fase awal konflik sebelumnya.
Teheran kini lebih terbuka memperlihatkan kemampuan militernya secara langsung kepada dunia.