Damai AS dengan Iran Ditangan Motjaba, Perang Terkini Pecah di Hormuz
- Istimewa
Siap – Iran menyampaikan bahwa kesepakatan damai dengan Amerika Serikat belum resmi disetujui, meski Presiden Donald Trump mengeklaim sebagian besar perundingan telah dinegosiasikan.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, menurut pejabat Teheran, proposal perdamaian itu masih harus mendapat persetujuan dari pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei dan Dewan Keamanan Nasional tertinggi sebelum benar-benar dieksekusi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, seluruh keputusan penting di negaranya harus melalui koordinasi dengan Mojtaba Khamenei.
Ia menyebut tak ada keputusan di Republik Islam yang dibuat tanpa izin dari pemimpin tertinggi tersebut.
Menurutnya, seluruh institusi dan kelompok politik Teheran harus mendukung keputusan diplomatik yang telah diambil agar tertuju satu suara kepada dunia.
Ia menambahkan dirinya juga selalu berhati-hati agar tidak mengeluarkan pernyataan yang bertentangan dengan pandangan Mojtaba atau memicu perpecahan di dalam struktur pemerintahan Teheran.
Ilustrasi perang Amerika vs Iran
- Tangkapan layar YouTube Kompas
Pejabat Republik Islam mengungkapkan masih ada satu atau dua klausul dalam proposal damai dengan AS yang perlu diperjelas sebelum nota kesepahaman dikirim untuk diratifikasi.
Hal itu telah disampaikan Iran kepada mediator Pakistan yang ikut terlibat dalam proses negosiasi.
Trump juga sebelumnya menyebut aspek dan detail akhir dari memorandum kesepahaman masih dibahas dan akan segera diumumkan.
Menurut laporan The Guardian, proposal kesepakatan AS Iran mencakup pelonggaran sanksi serta pencairan aset Teheran yang dibekukan hingga sekitar 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp353 triliun.
Sebagai imbalannya, Teheran disebut akan membuka kembali Selat Hormuz dan bersedia memulai negosiasi soal program nuklirnya selama 60 hari mulai 5 Juni mendatang di Pakistan.
Terlaporkan dapat kembali menjual minyak dan produk petrokimia selama masa negosiasi tanpa risiko terkena sanksi.
Meski begitu, Teheran menegaskan belum ada komitmen mengenai hasil akhir perundingan masalah nuklir.
Serangan Terbaru AS
Militer Amerika Serikat dilaporkan telah melancarkan serangan baru di wilayah selatan Iran pada Selasa, 26 Mei 2026 waktu setempat.
Dalam serangan tersebut, AS menargetkan situs peluncuran rudal dan kapal yang diduga memasang ranjau di sekitar Selat Hormuz.
Washington berdalih, operasi ini dilakukan untuk melindungi pasukan Amerika Serikat dari ancaman Republik Islam Iran.