Trump Dorong Negara Muslim Berdamai dengan Israel Jika Perang Iran Berakhir
- Tangkapan layar YouTube
Siap – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah menyiapkan langkah diplomatik besar yang berpotensi mengubah peta politik Timur Tengah.
Menurut laporan Axios, Trump mendesak sejumlah pemimpin Muslim dan Arab untuk mempertimbangkan bergabung dengan Abraham Accords atau Perjanjian Abraham bersama Israel apabila kesepakatan yang mengakhiri konflik dengan Iran berhasil dicapai.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa Washington tidak hanya berfokus pada penghentian ketegangan dengan Teheran.
Gedung Putih juga ingin memanfaatkan momentum pascaperdamaian untuk memperluas jaringan normalisasi hubungan diplomatik antara negara-negara Arab dan Israel.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Arab Saudi menjadi sasaran utama diplomasi Amerika Serikat.
Selain Riyadh, pembicaraan juga melibatkan Qatar dan Pakistan yang dianggap memiliki pengaruh penting dalam dinamika politik dunia Islam.
Meski demikian, respons para pemimpin negara tersebut disebut masih sangat hati-hati.
Normalisasi hubungan dengan Israel tetap menjadi isu yang sensitif secara politik dan berpotensi memicu reaksi luas di dalam negeri masing-masing negara.
Situasi itu menunjukkan bahwa ambisi Trump untuk memperluas Abraham Accords masih menghadapi tantangan besar meskipun konflik dengan Iran berpotensi mereda.
Bagi Washington, keberhasilan memperluas kesepakatan tersebut akan menjadi salah satu pencapaian diplomatik paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Namun bagi banyak negara Muslim, hubungan dengan Israel tidak hanya menyangkut kepentingan geopolitik, tetapi juga berkaitan erat dengan persoalan Palestina yang hingga kini belum menemukan penyelesaian permanen.
Abraham Accords dan Ambisi Besar Trump di Timur Tengah
Abraham Accords pertama kali diperkenalkan pada 2020 saat masa jabatan pertama Donald Trump.
Kesepakatan tersebut membuka jalan bagi normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan beberapa negara Arab.
Uni Emirat Arab menjadi negara pertama yang menandatangani kesepakatan tersebut, kemudian diikuti Bahrain, Maroko, dan Sudan.
Washington memandang Abraham Accords sebagai fondasi baru bagi arsitektur keamanan Timur Tengah.
Pemerintah Amerika Serikat berpendapat bahwa peningkatan kerja sama ekonomi, keamanan, dan teknologi antara Israel dan negara-negara Arab dapat menciptakan stabilitas jangka panjang di kawasan.
Sejak kembali memimpin Gedung Putih, Trump dilaporkan menjadikan perluasan Abraham Accords sebagai salah satu prioritas kebijakan luar negerinya.