AI Belum Ramah Perempuan, Peneliti Ungkap Bahaya yang Ditimbulkan
- siapviva
Siap – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) saat ini sangat pesat. Hampir semua kalangan dan gender menggunakan kecerdasan buatan ini untuk menjawab persoalan hidup.
Namun ternyata di balik kemajuan AI, ada hal yang belum terungkap. Dimana AI ternyata belum ramah terhadap kaum perempuan. Hal itu terlihat dari sajian dan belum banyaknya perempuan yang memanfaatkan AI untuk mendukung produktivitas mereka.
Dosen Senior Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Pancasila, Fitria Angeliqa mengatakan, dari hasil riset kami yang dilakukan terlihat bahwa perempuan menggunakan AI untuk hal-hal yang konsumtif, ketimbang hal-hal yang produktif.
"Walaupun perempuan menjalankan bisnis, tapi ternyata penggunaan AI itu lebih digunakan untuk hal-hal yang konsumtif dan keseharian mereka dan bukan membantu bisnisnya pada akhirnya, jadi bahaya," katanya usai diskusi AI For Her bertajuk 'AI 101: Bestie Baru Era Digital', Sabtu (23/5/2026).
Kegiatan ini merupakan program dari Female Life Academy bekerjasama dengan Think.Women, Female Circle, Ladies In Tech, dan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila.
Kegiatan ini dirancang untuk membantu perempuan memahami penggunaan AI secara lebih praktis, kritis, dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari.
Fitri yang merupakan peneliti gender mengungkapkan, penyedia arsitektur AI sendiri kebanyakan laki-laki.
Hal itu yang membuat suara perempuan tidak terakomodir, sehingga perempuan harus men-translate keinginannya berkali-kali supaya bisa dipahami oleh AI tersebut dan membantu produktifitasnya.
"(AI) belum ramah perempuan karena memang belum banyak ternyata perempuan di dalamnya. Tadi ada yang cerita belum banyak secara arsitekturnya, yang mengisi prompting pun belum banyak," ujarnya.
"Jadi tadi itu prompting perempuan lebih banyak soal estetik, seperti ngedit foto. Jadi bukan untuk belajar untuk sesuatu yang rumit," sambungnya.
Ia menjelaskan, dalam isu kesehatan, perempuan menjadi pengguna utama, misal mencari informasi gejala penyakit lewat platform kesehatan.
Namun, hal ini justru mempertegas beban ganda tradisional, di mana perempuan tetap dibebankan sebagai penanggung jawab utama perawatan anggota keluarga.
“Mengingat beban kerja perempuan yang kompleks, perempuan seharusnya menjadi target utama AI untuk meringkas dan mempermudah pekerjaan mereka dalam satu sistem yang ramah pengguna,” tukasnya.