Anak Buah Prabowo Beberkan Laporan Terbaru dari AS dan Iran di Tengah Konflik, Ini Bocorannya
- Istimewa
Siap – Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin mengaku telah mendapat laporan dari Amerika Serikat dan Iran terkait perkembangan konflik yang terjadi di antara dua negara tersebut.
"Hari ini saya menerima update dari masing-masing negara, bahwa yang pertama Amerika Serikat Presiden Trump menunda serangan ke Iran dengan terus melakukan negosiasi secara serius," katanya dalam rapat dengar pendapat dengan DPR pada Selasa, 19 Mei 2026.
Sjafrie juga mengungkapkan, Washington telah memberi penekanan kepada Teheran bahwa waktu perseteruan ini semakin sempit dan semakin menimbulkan banyak hal yang bisa merusak geostrategi, geoekonomi, dan geopolitik secara global.
"Kemudian juga di Amerika Serikat ada pertimbangan opsi untuk mencabut sanksi minyak yang sekarang masih dalam pembicaraan," ujarnya.
Tetapi di Amerika Serikat sendiri, kata Sjafrie, tekanan politik domestik dalam negeri mereka tetap tinggi.
"Saya tidak mencoba untuk mengelaborasi karena ini saya kira bukan kompetensi kami di dalam melakukan penjelasan," tuturnya.
Trump gagal yakinkan Xi soal Iran
- Kolase Siap.viva
Sedangkan laporan dari Teheran menyebut, bahwa Iran siap menghadapi segala bentuk agresi yang diberikan kepada mereka.
Mereka sudah mempersiapkan diri kurang lebih 47 tahun, setelah Sahiran disingkirkan dan diganti oleh rezim baru.
"Nah itulah saatnya 47 tahun dia bangkit, baik itu ekonomi, politik, dan juga pertahanan. Jadi sekarang, Iran itu merasa bahwa dia juga mempunyai kemampuan untuk menghadapi global konflik," katanya.
Lebih lanjut Sjafrie juga mengatakan, Republik Islam tersebut telah mempersiapkan skema asuransi kapal yang ada di Selat Hormuz, dan juga ingin membuka kembali pasar saham dalam menghadapi tantangan besar.
"Tentunya tantangan besar yang dihadapi ini adalah tantangan yang berasal dari Amerika dan Israel."
Sjafrie menambahkan, dalam laporan yang ia terima Republik Islam itu juga ingin mempertahankan posisi tawar dengan tuntutan tetap melakukan kontrol terhadap Selat Hormuz.
Balasan yang Menyakitkan
Juru bicara militer Angkatan Darat Republik Islam Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, memperingatkan bahwa setiap tindakan agresi baru terhadap negaranya akan mendapat balasan yang lebih menyakitkan.
Ia memastikan, bahwa segala bentuk agresi ke Iran hanya akan membuka front baru menggunakan alat dan metode baru.