Iran Serang Balik AS di PBB, Trump Disebut Bisa Jadi Presiden Paling Bodoh dalam Sejarah
- Siap.viva/IRGC News
Siap – Konflik antara Iran dan Amerika Serikat tidak lagi hanya terjadi di medan perang atau laut.
Kini api pertempuran menjalar ke ruang-ruang diplomatik PBB.
Baru-baru ini, Republik Islam melancarkan serangan verbal yang sangat keras.
Pemerintah Republik Islam menilai Amerika menggunakan pengaruhnya di PBB untuk menekan Iran secara politik dan militer di tengah situasi kawasan yang semakin tidak stabil.
Pernyataan keras tersebut muncul ketika hubungan kedua negara berada di titik paling rapuh pasca perang besar yang mengguncang Timur Tengah dalam beberapa bulan terakhir.
Di saat bersamaan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali menjadi sorotan internasional setelah retorika kerasnya terhadap Republik Islam menuai kritik dari berbagai pihak.
Dalam narasi yang berkembang di media Republik Islam dan sejumlah pengamat geopolitik regional, Trump bahkan disebut berada di ambang menjadi Presiden paling bodoh dalam sejarah Amerika.
Pernyataan tersebut muncul sebagai respons terhadap kebijakan agresif Washington terhadap Teheran yang dinilai justru memperburuk stabilitas global.
Iran menilai langkah Amerika selama ini gagal melemahkan Republik Islam.
Sebaliknya, Teheran mengklaim tekanan militer dan ekonomi dari Washington justru membuat kawasan Timur Tengah semakin berbahaya.
Kementerian Luar Negeri Republik Islam menyebut Dewan Keamanan PBB seharusnya menjadi lembaga netral untuk menjaga perdamaian dunia.
Namun Iran menuduh AS memanfaatkan pengaruh politiknya untuk membentuk opini internasional melawan Republik Islam.
“Kami melihat penyalahgunaan kekuasaan yang jelas di Dewan Keamanan PBB,” demikian pernyataan pejabat Republik Islam yang dikutip media pemerintah Teheran.
Teheran juga menuduh Washington menggunakan isu nuklir dan keamanan regional sebagai alat tekanan geopolitik.
Pernyataan itu muncul setelah sejumlah sidang darurat DK PBB kembali membahas ancaman konflik baru di Timur Tengah.
Amerika Serikat sebelumnya mendesak komunitas internasional memperketat tekanan terhadap Republik Islam terkait program nuklir dan aktivitas militernya di kawasan.
Namun, Rusia dan China beberapa kali menolak pendekatan agresif tersebut.
Kedua negara menilai penyelesaian diplomatik harus lebih diutamakan dibanding tekanan militer.
Situasi itu memperlihatkan semakin tajamnya perpecahan geopolitik global.