AS Klaim Punya Senjata Super Canggih, Iran Bisa Lumpuh dalam Sekejap?
- Siap.viva/Military Embedded Systems
Siap – Militer Amerika Serikat kembali membuat dunia terkejut setelah perusahaan teknologi pertahanan Anduril Industries mengembangkan sistem headset tempur berbasis kecerdasan buatan atau AI untuk medan perang modern.
Teknologi tersebut dikembangkan bersama Meta Platforms milik Mark Zuckerberg dan disebut mampu mengubah cara tentara AS bertempur di masa depan.
Headset tempur itu bukan sekadar alat komunikasi biasa.
Sistem ini dirancang agar prajurit dapat memerintahkan drone, membaca peta perang secara real time, hingga memilih target serangan hanya melalui gerakan mata dan perintah suara.
Pengembangan teknologi tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama konflik berkepanjangan antara AS, Iran, China, hingga Rusia.
Banyak analis menilai teknologi ini dapat menjadi salah satu proyek militer paling ambisius Pentagon dalam beberapa dekade terakhir.
Apalagi Washington kini terus memperkuat sistem perang berbasis AI setelah menghadapi tantangan besar dalam konflik modern di Timur Tengah.
Drone Tempur Bisa Dikendalikan dengan Mata
Iran menuding AS-Israel pakai drone tiruan Shahed-136 untuk serang negara Arab.
- Siap.viva/Tasnim News
Wakil Presiden Anduril, Quay Barnett, mengatakan proyek ini bertujuan mengubah tentara menjadi bagian dari sistem senjata terintegrasi.
Konsep tersebut terinspirasi dari gagasan “manusia sebagai sistem senjata” yang selama ini identik dengan teknologi cyborg modern.
Barnett sebelumnya pernah bertugas di Komando Operasi Khusus Angkatan Darat AS sehingga memahami kebutuhan tempur di lapangan secara langsung.
Menurutnya, tentara masa depan tidak lagi hanya membawa senjata, tetapi akan menjadi pusat kendali berbagai sistem AI dan drone tempur secara bersamaan.
“Tujuan fundamentalnya adalah membuat tentara dan drone berbagi informasi tanpa hambatan serta mengambil keputusan sebagai satu kesatuan,” ujar Barnett seperti dikutip MIT Technology Review, Selasa, 19 Mei 2026.
Anduril saat ini mengembangkan dua proyek besar sekaligus.
Pertama adalah program Soldier Borne Mission Command atau SBMC milik Angkatan Darat AS.
Dalam proyek tersebut, Anduril memenangkan kontrak prototipe senilai US$159 juta pada 2025 untuk bekerja sama dengan Meta membuat headset augmented reality atau AR bagi tentara.
Sistem tersebut nantinya akan dipasang pada helm militer yang sudah digunakan pasukan Amerika.