Selat Hormuz Siaga! Trump Kerahkan Armada Tempur Usai Iran Ancam Hancurkan Kapal Tanker AS
- Kolase Siap.viva
Siap – Selat Hormuz kini berada dalam kondisi siaga penuh.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengerahkan armada tempur ke jalur perairan strategis tersebut.
Langkah ini diambil setelah Iran mengeluarkan ancaman untuk menghancurkan kapal-kapal tanker Amerika.
Ketegangan yang sempat mereda karena gencatan senjata kini meledak kembali.
Selat Hormuz, yang menjadi urat nadi ekonomi global, berubah menjadi panggung adu kekuatan antara dua musuh bebuyutan.
Trump tidak main-main.
Ia memerintahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan sejumlah kapal perusak rudal untuk bersiaga penuh.
Tujuannya: mengawal kapal-kapal tanker yang terjebak sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.
Di sisi lain, Iran balik mengancam.
Mereka menyebut armada tempur AS itu akan berubah menjadi kuburan di dasar laut Selat Hormuz.
Trump Kerahkan Armada Tempur
USS Abraham Lincoln mendekat, Timur Tengah memanas
- Siap.viva/US Navy
Keputusan Trump untuk mengerahkan armada tempur diumumkan secara dramatis melalui media sosial pada Ahad malam, 3 Mei 2026.
Presiden AS itu menyatakan bahwa "Project Freedom" akan dimulai pada Senin pagi, 4 Mei 2026.
"Kami lindungi jalur perdagangan bebas. Iran jangan coba-coba," tulis Trump.
Trump menjelaskan bahwa langkah ini diambil setelah banyak negara netral meminta bantuan AS untuk membebaskan kapal-kapal mereka yang terjebak di Selat Hormuz sejak perang dimulai.
"Kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari perairan terlarang ini," tegasnya.
Armada yang dikerahkan tidak main-main.
Kapal induk USS Abraham Lincoln, yang sebelumnya berpatroli di Laut Arab, diperintahkan untuk mendekati Selat Hormuz.
Kapal ini membawa sekitar 90 pesawat tempur, termasuk F-35 dan F/A-18.
Kapal perusak rudal kelas Arleigh Burke juga ikut dikerahkan untuk memberikan perlindungan anti-rudal dan anti-drone.
Sebelumnya, dalam pidatonya di Florida pada Jumat, 1 Mei 2026, Trump sempat menggambarkan operasi di Selat Hormuz sebagai bisnis yang menguntungkan.
Ia merujuk pada penyitaan minyak Republik Islam oleh kapal-kapal AS dalam beberapa pekan terakhir.
"Saya suka bisnis ini. Kapal-kapal kita membawa pulang minyak. Iran tidak bisa berbuat apa-apa," kata Trump saat itu.