Trump Sesumbar AS Akan Kawal Kapal Asing Tembus Selat Hormuz Hari Ini, Babak Baru Perang Iran Dimulai?
- Istimewa
Siap – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat seiring pernyataan Washington yang akan mengawal kapal-kapal melewati Selat Hormuz mulai hari Senin, 4 Mei 2026.
Pernyataan itu disampaikan Presiden AS Donald Trump menyikapi banyaknya kapal-kapal yang terjebak di kawasan Teluk Persia.
Trump memperingatkan, segala bentuk gangguan akan ditanggapi dengan tegas, terlebih dari Iran.
Keputusan ini merupakan respons cepat terhadap eskalasi di wilayah vital perdagangan dunia.
"Kami lindungi jalur perdagangan bebas. Iran jangan coba-coba," tulis Trump melalui akun media sosial pribadinya dikutip pada Senin, 4 Mei 2026.
Langkah ini otomatis menambah ketegangan AS-Iran yang sudah memanas. Komandan IRGC langsung bereaksi dengan pernyataan Trump.
"Kami siap tutup selat jika perlu," kata Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh dari IRGC ke Fars News.
Ini bukan ancaman kosong. Republik Islam tersebut pernah serang kapal tanker 2019.
Selat Hormuz Memanas
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut setiap harinya.
Karena itu, ancaman gangguan di kawasan itu dapat berdampak besar terhadap harga energi global dan stabilitas ekonomi internasional.
Langkah pengawalan kapal tersebut juga menandai meningkatnya keterlibatan militer Amerika di kawasan Teluk Persia di tengah perang Republik Islam yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Dalam beberapa bulan terakhir, konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus berkembang.
Serangan militer, ancaman balasan, hingga ketegangan diplomatik membuat kawasan Timur Tengah berada dalam situasi sangat rawan.
Trump kawal kapal di Hormuz mulai Senin, 4 Mei 2026
- Siap.viva/Current Report
Sebelumnya, Iran sempat menegaskan bahwa Selat Hormuz dapat ditutup jika tekanan militer dan blokade laut terhadap Teheran terus dilakukan. Pernyataan itu memicu kekhawatiran besar di pasar global.
Axios bahkan melaporkan bahwa Republik Islam telah menetapkan tenggat waktu kepada Amerika Serikat untuk mencabut blokade laut dan mengakhiri perang sebagai syarat pembukaan kembali Selat Hormuz secara terkendali.
Menurut laporan tersebut, pembicaraan nuklir baru hanya akan dilakukan jika blokade dicabut dan gencatan senjata permanen tercapai.
Situasi itu membuat Washington mulai meningkatkan kesiapan militernya di kawasan.
Selain pengawalan kapal, militer AS juga memperkuat armada laut dan sistem pertahanan di sekitar Teluk Persia.