Mojtaba Khamenei Tegaskan Iran Tidak Akan Mundur Sejengkal pun Hadapi Amerika
- Istimewa
Siap – Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatollah Mojtaba Hosseini Khamenei menegaskan bahwa negaranya tidak akan mundur menghadapi tekanan Amerika.
Sikap tegas itu sekaligus jawaban atas ketidakpuasan Presiden Amerika (AS) Donald Trump terkait proposal negosiasi yang diajukan Teheran, Iran.
Dalam pernyataannya, Mojtaba Khamenei menyebutkan, bahwa kebangkitan Iran saat ini tidak hanya soal kekuatan militer tetapi juga persatuan nasional.
Ia juga menegaskan, jutaan rakyat Iran siap berkorban dalam menghadapi ancaman dari Zionisme Israel dan Amerika Serikat.
"Hari ini kebangkitan luar biasa bangsa Iran, tidak hanya terbatas pada puluhan juta orang yang siap berkorban dalam perjuangan melawan zionisme dan Amerika yang haus darah, kebangkitan ini juga telah menyatukan bangsa Iran yang menjumlah 90 juta jiwa baik dalam maupun luar negeri sebagai kesatuan umat yang berani dan terhormat," katanya dikutip pada Sabtu, 2 Mei 2026.
Lebih lanjut Mojtaba Khamenei juga menekankan bahwa seluruh kemampuan strategis Iran mulai dari teknologi nuklir hingga misil merupakan aset yang akan dijaga sepenuhnya.
"Dengan seluruh identitas mereka, baik spiritual kemanusiaan, ilmu pengetahuan, industri, hingga teknologi dasar dan modern, mulai dari nano, bio, hingga nuklir dan misil, semuanya dianggap sebagai aset nasional dan akan dijaga sebagaimana mereka menjaga perbatasan laut darat dan udara mereka," tegasnya.
AS Tiba-tiba Sebut Perang Sudah Berakhir
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dilaporkan telah menyatakan bahwa perang dengan Iran telah berakhir. Kabar tersebut sontak mengejutkan banyak pihak. Lantas benarkah demikian?
Menurut laporan yang diterima awak media, pemerintahan Trump secara mengejutkan mengklaim perang dengan Iran telah berakhir seiring dimulainya genjatan senjata pada awal April 2026.
Dilansir dari South China Morning Post, seorang pejabat senior yang enggan dipublikasikan identitasnya mengatakan, bahwa pertempuran yang dimulai pada Sabtu, 28 Februari itu telah berakhir.
Lebih lanjut ia juga mengatakan, militer AS dan Iran tidak saling baku tembak sejak gencatan senjata selama 2 Minggu, dimulai pada 7 April 2026.
Namun pernyataan ini memicu dugaan kuat bahwa Gedung Putih sengaja menggunakan narasi tersebut untuk menghindari kewajiban konstitusional berdasarkan Undang-Undang Tahun 1973.