Iran Singgung Selat Malaka, AS Diperingatkan Tak Campuri Kedaulatan Indonesia
- Istimewa
Situasi ini menciptakan siklus saling blokade yang meningkatkan eskalasi konflik.
Menurut laporan Al Jazeera, konflik maritim seperti ini sangat berisiko karena melibatkan jalur perdagangan internasional.
Gangguan kecil saja dapat berdampak besar pada ekonomi global.
Drama Militer dan Ancaman Balasan
Ketegangan semakin meningkat setelah Amerika Serikat merilis video operasi militernya terhadap kapal Iran.
Pasukan AS terlihat mendarat menggunakan helikopter dari kapal induk USS Tripoli untuk mengambil alih kapal kargo Tosca.
Kapal tersebut sebelumnya ditembak oleh kapal penghancur USS Spruance (DDG-111).
Amerika Serikat mengklaim kapal itu mencoba menembus blokade di Selat Hormuz.
Namun Iran menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata dan bentuk perompakan maritim.
Sebagai respons, Teheran kembali membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Militer Iran mengumumkan telah menghentikan dua kapal tanker berbendera Angola dan Botswana.
Sebanyak 14 kapal disebut telah mematuhi tindakan tersebut dalam 72 jam terakhir.
Namun, angka ini belum dikonfirmasi secara independen.
Dilansir dari media Yordania, juru bicara Markas Besar Khatam Al-Anbiya, Letnan Kolonel Ibrahim Zulfagari, menyatakan Selat Hormuz tetap ditutup selama blokade AS berlangsung.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat terus melakukan patroli dan memerintahkan kapal-kapal untuk mengubah jalur ke Teluk Oman.
Presiden Amerika Serikat bahkan menantang Republik Islam yang dinilai melakukan tekanan dengan menutup jalur pelayaran.
Ketegangan ini terjadi di tengah upaya diplomasi yang semakin menemui jalan buntu.
Teheran menolak melanjutkan negosiasi damai tahap kedua.
Teheran menilai tuntutan Amerika Serikat berlebihan dan tidak seimbang.
Selain itu, blokade laut dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya.
Presiden Iran Masud Pezeshkian menegaskan posisi negaranya.
"Kami tidak berusaha memperluas perang. Kami bukanlah inisiator perang. Kami tidak menyerang siapa pun dan kami tidak berniat menyerang siapa pun sekarang. Kami hanya menginginkan hak-hak kami," katanya.
"Mereka ingin menolak hak-hak suatu bangsa, suatu masyarakat melalui intimidasi. Mereka berkata, kami telah memutuskan, Anda tidak boleh menggunakan hak ini. Jika seseorang tidak membela diri, mereka akan mati. Jika seseorang dipukul dan tidak bereaksi, itu berarti mereka akan mati," sambungnya.