Tragis, Alami Depresi Gegara Perang Berkepanjangan, Banyak Tentara Israel Pilih Bunuh Diri?
- Istimewa
Data IDF menunjukkan bahwa sejak 2023, terjadi peningkatan signifikan dalam jumlah dan proporsi pasukan cadangan yang bunuh diri.
Potret Ilustrasi Benjamin Netanyahu
- Istimewa
Mayoritas dari mereka yang tewas bunuh diri selama perang adalah tentara cadangan yang sedang bertugas aktif .
Mereka harus bertransisi cepat dari kehidupan sipil yang tenang ke medan perang yang mencekam, begitu pula sebaliknya. Brigadir Jenderal Amir Vadmani, kepala staf
Direktorat Personalia IDF, mengakui hal ini di hadapan komite Knesset. Meskipun angka bunuh diri di kalangan tentara wajib militer relatif stabil, peningkatan yang tajam justru terjadi di kalangan cadangan.
"Setelah kembali ke rumah, mereka tidak lagi mengenali diri mereka sendiri," demikian bunyi sebuah studi yang dikutip Ynetnews .
Banyak dari mereka merasa tidak berharga saat tidak sedang bertempur.
"Beberapa merasa nilai mereka hanya ada di medan perang. Di rumah, mereka merasa asing," lanjut studi tersebut.
Beban mental yang ditanggung tentara Israel saat ini sangatlah luar biasa.
Pertama, intensitas perang yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sejak 7 Oktober 2023, tentara Israel terus-menerus dikerahkan. Mereka bertempur di Gaza, menghadapi serangan roket dari Lebanon, dan kini harus waspada terhadap serangan langsung dari Iran.
Bagi para prajurit, tidak ada jeda, tidak ada waktu untuk pulih.
Kedua, luka moral (moral injury). Dokter Anita Shkedi, pendiri proyek Brothers of Jonathan, menyebutkan bahwa rasa malu dan bersalah akan sangat tinggi di kalangan tentara.
Mereka mungkin menyaksikan rekan-rekannya tewas atau gagal menyelamatkan warga sipil. Luka psikologis ini seringkali lebih parah daripada luka fisik.
Data dari Reuters yang dikutip Fox News menunjukkan lonjakan kasus PTSD yang mengkhawatirkan.
Kementerian Pertahanan Israel melaporkan peningkatan hampir 40 persen kasus PTSD sejak September 2023.
Bahkan, diprediksi angka ini akan melonjak hingga 180 persen pada tahun 2028. Sekitar 60 persen dari seluruh tentara yang terluka juga menderita PTSD.