Iran Kuasai Strategi Asimetris, AS Terpaksa Tahan Serangan dan Negosiasi
- Istimewa
Siap – Amerika Serikat dan Israel nampaknya sedang menghadapi realitas berat dalam pertempuran melawan Iran.
Berbagai indikator lapangan menunjukkan bahwa tekanan militer dan diplomatik yang selama ini dijalankan Washington mulai menemui jalan buntu.
Bukti paling nyata dari pergeseran peta kekuatan ini adalah langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang secara mengejutkan mengumumkan gencatan senjata tanpa batas waktu.
Keputusan ini memicu perdebatan global.
Sejumlah pengamat internasional menilai, langkah tersebut merupakan pengakuan implisit bahwa strategi militer AS dan Israel dalam menghadapi Iran belum membuahkan hasil signifikan.
Bahkan, banyak analis menyebut langkah ini sebagai indikasi bahwa AS kini berada dalam posisi yang tidak menguntungkan di atas meja negosiasi.
Namun, apa yang sebenarnya membuat Republik Islam itu mampu menghadapi dua raksasa militer dunia dengan begitu tangguh?
Jawaban atas pertanyaan ini terletak pada transformasi total dalam cara Teheran menjalankan operasi militer mereka di tahun 2026.
Jika pada konflik Juni 2025, doktrin militer Teheran masih cenderung defensif dan simbolis, kini aturan mainnya berubah total.
Para pengamat mencatat pergeseran dari sekadar menjaga muka menjadi operasi ofensif asimetris yang sangat agresif.
Perubahan ini membawa dampak langsung bagi operasional militer Amerika Serikat yang kini harus menghadapi intensitas serangan yang jauh lebih tinggi dan sulit diprediksi.
Dari Pertahanan Jadi Serangan Asimetris Mematikan
Rudal balistik Iran untuk menghadapi Amerika
- Istimewa
Perubahan drastis dalam strategi Iran ini tidak lepas dari rentetan peristiwa yang terjadi di awal tahun 2026.
Analis pertahanan menilai, Iran secara resmi merevisi doktrin militernya setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Sayyid Ali Khamenei tewas dalam serangan AS Israel pada akhir Februari 2026.
Peristiwa tersebut menjadi titik balik krusial yang memaksa Teheran untuk meninggalkan sikap defensif dan beralih ke strategi yang lebih mematikan.
Kekuatan militer Teheran dikenal sangat kompleks dengan struktur dua angkatan yang berjalan sejajar: Artesh atau militer reguler dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Dalam pembagian tugas terbaru, Artesh tetap fokus pada pertahanan wilayah secara konvensional, sementara IRGC memegang kendali penuh atas persenjataan drone dan rudal.