Makin Mendidih, Trump "Main Gila'" di Selat Hormuz, Kami Memiliki Kendali Penuh??
- Istimewa
Siap –Presiden Amerika Serikat Donald Trump lagi lagi tebar ancaman di perang Iran untuk kesekian kali, ia memerintahkan angkatan laut AS untuk menembak dan membunuh kapal manapun yang memasang ranjau di Selat Hormuz.
"Tidak boleh ada keraguan," tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social dilansir Kamis (23/3).
Tak hanya itu, Donald Trump juga mengaku bahwa dirinya memerintahkan kapal penyapu ranjau AS untuk terus membersihkan jalur tersebut.
"Dengan kekuatan yang ditingkatkan tiga kali lipat,"
Pernyataan tersebut menandai peningkatan tajam ketegangan Antara AS dan Iran terkait jalur pelayaran minyak yang sangat penting itu.
Trump selama ini secara agresif menekan Teheran agar membuka kembali sepenuhnya Selat Hormuz sebagai bagian dari gencatan senjata yang rapuh.
Kesepakatan itu sebenarnya dijadwalkan berakhir pekan ini sebelum akhirnya diperpanjang secara sepihak oleh Trump.
Sebagai bagian dari tekanan, Washington telah memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran di kawasan tersebut guna memaksa Teheran melonggarkan kontrolnya atas selat dan kembali ke meja perundingan.
Komando Pusat AS menyatakan bahwa hingga kini pihaknya telah mengarahkan 31 kapal untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan sebagai bagian dari pelaksanaan blokade tersebut.
Trump juga menegaskan bahwa kendali atas selat kini berada di tangan AS, bukan Iran. "Kami memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz," tulisnya dalam unggahan lain di Truth Social pada Kamis pagi.
"Tidak ada kapal yang dapat masuk atau keluar tanpa persetujuan Angkatan Laut Amerika Serikat. Jalur itu 'tertutup rapat,' sampai Iran mampu membuat sebuah KESEPAKATAN!!!" lanjutnya.
Kurang dari 15 menit kemudian, Trump kembali memanaskan situasi dengan membagikan ulang sebuah artikel opini Washington Post berjudul,
"Trump doesn't need a deal to get what he wants from Iran." "Sangat benar!!!" tulis Trump.
Di tengah ketegangan tersebut, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz masih jauh di bawah level sebelum perang.
Dalam kondisi normal, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Lebih dari 100 kapal, termasuk puluhan tanker, biasanya melintasi selat setiap hari saat kondisi damai.