Taktik Iran Bikin Heboh Dunia, Tol Selat Hormuz Jadi Mesin Uang Teheran?
- Siap.viva/Iran Observer
Siap – Iran membuat gebrakan baru yang mengubah peta ekonomi global.
Untuk pertama kalinya, Teheran resmi mengirimkan pendapatan dari pungutan tol di Selat Hormuz langsung ke rekening bank sentralnya.
Langkah ini menandai babak baru dalam perang ekonomi melawan dominasi Amerika Serikat.
Wakil Ketua Parlemen Republik Islam, Hamidreza Hajibabaei, mengonfirmasi kabar ini kepada kantor berita Tasnim pada Kamis, 23 April 2026.
"Pendapatan pertama yang diterima dari tol Selat Hormuz telah disetorkan ke rekening Bank Sentral," ujar Hajibabaei.
Ini adalah sinyal paling jelas bahwa Republik Islam tidak hanya serius menutup jalur strategis tersebut.
Akan tetapi juga telah berhasil mengubahnya menjadi mesin uang baru di tengah tekanan perang dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pendapatan Perdana, Mesin Uang
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur urat nadi energi dunia.
Di masa damai, sekitar seperlima dari minyak dan gas global melewati celah sempit ini.
Kini, Teheran memanfaatkan kendali penuh atas jalur tersebut untuk mengeruk pendapatan besar.
Meskipun angka pasti setoran perdana ini tidak diumumkan secara rinci, para analis telah membuat proyeksi mengejutkan.
Menurut laporan TRM Labs, sebuah perusahaan analitik blockchain, Republik Islam berpotensi mengantongi hingga USD 20 juta per hari hanya dari kapal tanker minyak.
Jika kapal LNG (Liquefied Natural Gas) ikut dihitung, pendapatan bulanan bisa mencapai USD 600-800 juta.
Bahkan, sumber-sumber ekonomi Iran menyebut angka yang lebih fantastis.
Sebuah analisis yang dipublikasikan media keuangan Iran memperkirakan sistem tol ini dapat menghasilkan hingga USD 120 miliar per tahun jika beroperasi penuh.
Jumlah ini setara dengan sekitar 20-25 persen dari PDB tahunan Republik Islam.
Pendapatan ini menjadi sangat krusial bagi ekonomi Teheran yang tercekik sanksi.
Dengan aliran dana segar ini, Teheran memiliki "kartu as" baru dalam setiap negosiasi perdamaian di masa depan.
Dominasi "Petroyuan" dan Kripto Mengalahkan Dolar
Yang membuat langkah Republik Islam ini revolusioner bukan hanya soal angka, tetapi juga mata uang yang digunakan.
Teheran secara tegas menolak penggunaan Dolar AS.