Gagal Total! Pengamat UI Bongkar Misi Licik AS Curi Uranium Iran
- Istimewa
Data dari IAEA yang dirilis pada Februari 2026 memperkuat dugaan ini.
Badan atom PBB tersebut memperkirakan Iran memiliki 440,9 kg uranium yang diperkaya hingga 60 persen sebelum perang 12 hari pada Juni 2025.
Jumlah ini, menurut ukuran IAEA, jika diperkaya lebih lanjut cukup untuk membuat 10 senjata nuklir.
Bahkan laporan IAEA terbaru pada Mei 2026 menunjukkan Iran telah meningkatkan produksinya menjadi sekitar 408,6 kg untuk level 60 persen.
Total keseluruhan uranium yang diperkaya Iran kini melebihi 9.247 kg, atau 45 kali lipat batas yang diizinkan dalam kesepakatan nuklir 2015.
AS Tolak Solusi Diplomatik, Pilih Operasi Gagal
Presiden Amerika vs Iran
- Istimewa
Yang menarik, Amerika Serikat sebenarnya memiliki opsi diplomatik untuk mengamankan uranium ini.
Rusia mengusulkan untuk mengambil alih uranium Iran yang diperkaya tinggi sebagai solusi diplomatik atas konflik yang sedang berlangsung.
Namun, Washington menolak tawaran tersebut, kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada India Today pada Rabu (15/4).
Berbicara kepada India Today, Peskov mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengajukan usulan tersebut beberapa waktu lalu, dan menyebutnya sebagai solusi yang sangat baik yang pada akhirnya ditolak oleh pihak AS.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan menyatakan dengan tegas bahwa Iran akan menyerahkan stok tersebut secara sukarela atau AS akan mengambilnya dengan cara lain.
Pilihan "cara lain" inilah yang diduga dijalankan melalui operasi ekstraksi uranium yang berakhir dengan kegagalan.
Misi Tersulit di Dunia: 50 Meter di Bawah Tanah
Ridlwan menjelaskan betapa rumitnya misi ini. Ini bukan sekadar operasi militer biasa.
"Nah, ini adalah betul ini adalah misi tersulit di dunia karena pelakunya atau ekstraktornya harus menggunakan baju kontra nuklir (baju anti radiasi) dan kemudian mereka harus turun kira-kira sekitar 50 meter di bawah tanah untuk melakukan kontra bunker dan kemudian baru setelah bisa diangkat ke atas baru dibawa keluar dengan C-130."
"Jadi ini memang misi yang sangat-sangat rumit dan sangat-sangat berbahaya."
Analisis dari IISS mengonfirmasi kompleksitas ini.
Potensi operasi komando AS untuk menetralisir HEU (High Enriched Uranium) Iran dianggap penuh dengan risiko.