AS Lakukan Kontra Blokade, Iran Ancam Hentikan Perdagangan Dunia
- Siap.viva/Antara
Siap – Republik Islam mengancam akan membalas kebijakan blokade laut yang diterapkan Amerika Serikat di dekat Selat Hormuz.
Kondisi ini memicu kebuntuan baru di tengah upaya perundingan yang tengah berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Peringatan itu disampaikan langsung oleh Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi.
Ia menegaskan bahwa AS telah melanggar semangat gencatan senjata yang baru disepakati beberapa pekan lalu.
Kini, dunia menahan napas. Gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan memasuki hitungan hari terakhir.
Alih-alih mereda, ketegangan justru meledak di jalur perairan paling vital di dunia: Selat Hormuz.
Blokade Tandingan: Kapal Dagang Diputar Balik
Situasi di perairan Teluk semakin memanas.
Analis Kajian Strategis Intelijen Universitas Indonesia (UI), Ridlwan Habib, mengungkapkan bahwa kebijakan blokade kontra-blokade yang dilakukan AS dapat membuat upaya perundingan semakin alot.
"Kita tahu per pagi tadi sudah ada dua kapal lagi yang diminta berbalik arah ketika meninggalkan Selat Hormuz menuju laut lepas. Ternyata di tengah-tengah itu diminta untuk berbalik arah putar balik oleh kapal militer Amerika," katanya dikutip dari kanal YouTube tvOne pada Kamis, 16 April 2026.
Menurut Ridlwan, kapal militer AS tidak berani mendekat ke arah wilayah Iran, apalagi masuk ke Selat Hormuz.
"Dia (AS) tidak berani karena tentu saja itu akan diserbu dengan kapal-kapal cepat milik Iran. Jadi mereka hanya menunggu saja di perairan lepas. Tetapi begitu ada kapal minyak, kapal dagang yang lewat, mereka meminta untuk memutar balik," tuturnya.
Laporan dari Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa sembilan kapal yang mencoba menembus blokade berhasil dihentikan.
Seluruhnya merupakan kapal tanker minyak. AS juga mengonfirmasi bahwa dua tanker minyak Iran dicegat saat berupaya meninggalkan pelabuhan Chabahar menuju Teluk Oman.
"Ini dengan tujuan agar Iran merasa tertekan, karena apa? ekonominya terblokade. Tapi jangan lupa bahwa Iran ini sudah terbiasa ditekan seperti ini," sambung Ridlwan.
Ia menjelaskan bahwa Republik Islam tersebut telah teruji sejak tahun 80-an, ketika terkena sanksi embargo ekonomi dari AS dan sekutunya.