Owalah, AS Ternyata Raup Cuan Berlimpah Ditengah Ancaman Krisis Energi Akibat Konflik di Selat Hormuz, Kok Bisa?

Potret Ilustrasi
Sumber :
  • Istimewa

Siap –Mengejutkan, ditengah memanasnya perang Timur Tengah, Amerika Serikat ternyata berhasil meraup cuan melimpah ditengah ancaman krisis energi seluruh dunia.

img_title Iran Tangkap Kapal Selam Nirawak Canggih AS di Selat Hormuz, IRGC: Kembalilah ke 'Teluk Babi'

Baru baru ini beredar kabar bahwa Amerika Serikat hampir mencatatkan sejarah dengan menjadi pengekspor bersih minyak mentah untuk pertama kalinya sejak perang dunia ke II.

Lonjakan ekspor terjadi ditengah meningkatnya permintaan global akibat terganggunya pasokan energi dari Timur Tengah imbas konflik AS- Iran.

img_title Ini Syarat Mutlak Teheran Jika AS Ingin Situasi Kembai Normal, Iran Melunak?

Disitat dari laporan Reuters, pengiriman minyak mentah AS melonjak mendekati rekor tertinggi pekan lalu, seiring Negara - negara di Asia dan Eropa berebut pasokan alternatif untuk menggantikan distribusi yang terhambat.

Berdasarkan data pemerintah AS menunjukkan impor bersih minyak mentah menyusut drastis menjadi hanya 66.000 barel per hari pekan lalu, jumlah terendah sejak pencatatan dimulai pada 2001.

img_title Selat Hormuz Jadi Medan Strategis, Iran Mulai Membatasi Ruang Gerak Negara Pendukung AS

Sementara ekspor melonjak ke 5,2 juta barel per hari, tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.

"Kemudian peningkatan ekspor minyak mentah AS mencerminkan pembeli di Atlantik dan Asia yang semakin aktif mencari pasokan yang tersedia, terutama karena selisih harga minyak regional masih menutup biaya pengiriman," ujar Wakil Presiden Pasar Minyak Rystad Energy, Janiv Shah, dikutip Jumat (17/4/2025).

Negara-negara Eropa menjadi tujuan utama ekspor, menyerap sekitar 2,4 juta barel per hari atau 47% dari total pengiriman.

Sementara Asia menyerap sekitar 1,49 juta barel per hari atau 37%, meningkat dari 30% pada tahun sebelumnya.

Pembeli utama meliputi Belanda, Jepang, Prancis, Jerman, dan Korea Selatan.

Di sisi lain, impor minyak AS justru turun lebih dari 1 juta barel per hari menjadi 5,3 juta barel per hari.

Meski demikian, AS masih membutuhkan impor karena kilangnya dirancang untuk mengolah minyak jenis berat dan asam, berbeda dengan produksi domestik yang cenderung ringan.

Kondisi pasar juga dipengaruhi lonjakan harga minyak global. Premi minyak mentah Brent terhadap West Texas Intermediate (WTI) sempat mencapai US$20,69 per barel atau sekitar Rp351.730.

Hal ini membuat minyak AS lebih kompetitif di pasar internasional.

Bahkan, harga kargo minyak mentah untuk pengiriman cepat ke Eropa sempat mendekati US$150 per barel atau sekitar Rp2,55 juta, mencerminkan ketatnya pasokan global.

Halaman Selanjutnya
img_title