Perang Laut di Ujung Tanduk, AS Kerahkan 10 Ribu Prajurit Gabungan Hadapi Iran
- Istimewa
Siap – Ketegangan antara Republik Islam Iran dengan Amerika Serikat kembali meningkat. Tensi panas ini terjadi setelah adanya blokade tandingan AS di Selat Hormuz.
Alhasil, potensi atau ancaman perang laut bak bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, melontarkan ultimatum pada Amerika.
Ia memperingatkan AS bahwa blokade laut terhadap Iran merupakan pelanggaran gencatan senjata.
Rudal balistik Iran ladeni Amerika Serikat
- Istimewa
Abdollahi berjanji, jika blokade berlanjut, pihaknya akan membalas dengan mencegah semua proses ekspor dan impor di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah.
"Jika AS yang agresif dan teroris terus melakukan tindakan ilegal dalam memberlakukan blokade maritim di kawasan ini dan menciptakan ketidakamanan bagi kapal dagang dan tanker minyak Iran, tindakan AS ini akan menjadi pendahulu pelanggaran gencatan senjata," katanya dikutip dari TasnimNews pada Kamis, 16 April 2026.
"Dan Angkatan Bersenjata kami yang kuat tidak akan mengizinkan ekspor atau impor apa pun di wilayah Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah untuk berlanjut," sambungnya.
"Iran akan mengambil tindakan tegas untuk mempertahankan kedaulatan dan kepentingan nasionalnya," ucap Mayjen Abdollahi.
AS Kerahkan Ribuan Prajurit
Militer Amerika Serikat dilaporkan telah mengerahkan lebih dari 10.000 tentara untuk terlibat dalam operasi blokade pelabuhan Iran.
Komando Pusat AS atau US CENTCOM menyebut, ribuan personel tersebut berasal dari angkatan laut, marinir, dan angkatan udara.
Data yang dihimpun menyebutkan, AS mulai memberlakukan pembatasan terhadap seluruh kapal yang keluar masuk pelabuhan tersebut sejak Senin, 13 April 2026.
Selain ribuan tentara, militer AS juga mengirim armada terdiri dari kapal perang serta pesawat tempur dalam misi tersebut.
CENTCOM juga mengklaim tidak ada satupun kapal yang berhasil menembus blokade dalam 24 jam pertama pelaksanaan.
Disebutkan enam kapal dagang memilih mematuhi instruksi pasukan AS dengan berbalik arah dan kembali ke pelabuhan Iran di Teluk Oman.
Menurut CENTCOM, kebijakan blokade ini diterapkan secara merata terhadap kapal-kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Republik Islam.