Sebanyak 150.000 Tentara Zionis Israel Kabur, 8 Terluka dan 3 Tewas di Tengah Eskalasi Iran

Belasan Tentara IDF Tewas, Hizbullah Balas 160 Bom Israel
Sumber :
  • Siap.viva/Sprinter Press

Koneksi dengan Perang Iran: Ketika Tiga Front Menjadi Beban Mati

img_title Serem, Iran Mulai Gunakan Rudal yang Bisa Menentukan Mangsanya Sendiri

Krisis internal ini tidak bisa dipisahkan dari konteks perang Iran yang lebih besar.

Sejak 28 Februari 2026, Israel terlibat dalam konflik multifront melawan Iran dan proksi-proksinya.

img_title Jantung Energi Iran Dibayangi Ancaman, Ledakan Misterius Muncul di Pulau Kharg

Bayangkan: di utara, Hizbullah di Lebanon meluncurkan roket hampir setiap hari.

Di selatan, Hamas di Gaza masih mampu melakukan serangan terkoordinasi.

img_title Teheran Ubah Kalkulasi Konflik, Strategi Baru Iran Bidik Kekuatan AS dari Banyak Arah

Di timur, milisi pro-Iran di Suriah dan Irak sesekali meluncurkan drone.

Dan di jantung konflik, Iran sendiri—meskipun jaraknya ribuan kilometer—tetap menjadi ancaman strategis dengan rudal-rudal balistiknya.

Inilah yang disebut para analis sebagai perang gesekan.

Dan dalam perang gesekan, yang kalah bukanlah yang memiliki senjata terbaik, melainkan yang kehabisan tentara terlebih dahulu.

Laporan WeWorld, sebuah organisasi kemanusiaan internasional, mencatat bahwa lebih dari 1.049.000 orang telah mengungsi di Lebanon akibat serangan Israel—hampir 19% dari total populasi Lebanon.

Di pihak Israel sendiri, puluhan ribu warga di utara juga mengungsi karena serangan roket Hizbullah.

Dampak Ekonomi dan Sosial: Bom Waktu yang Siap Meledak

Krisis militer ini memiliki akar yang lebih dalam: ekonomi dan sosial.

Biaya perang diyakini mencapai miliaran dolar per bulan.

Setiap tentara cadangan yang dipanggil berarti kehilangan produktivitas ekonomi.

Bisnis-bisnis kecil gulung tikar karena pemiliknya bertugas di Gaza atau Lebanon.

Namun yang lebih berbahaya adalah retakan sosial.

Ada ketidakadilan yang dirasakan secara luas dalam sistem wajib militer Israel.

Kelompok ultra-Ortodoks Yahudi (Haredi) secara tradisional dibebaskan dari dinas militer.

Sementara tentara sekuler berjuang dan mati di medan perang, kelompok Haredi tetap belajar di yeshiva (sekolah agama) tanpa ikut berperang.

Zamir secara blak-blakan menyebut ketidakseimbangan ini sebagai ancaman bagi kohesi sosial Israel.

"Ini bukan lagi masalah agama," katanya dalam laporan internal.

"Ini adalah masalah kelangsungan hidup."

Apa Selanjutnya? Antara Eskalasi dan Keruntuhan

Para analis militer melihat setidaknya tiga skenario ke depan.

Pertama, Israel dapat terus menekan, memobilisasi lebih banyak sumber daya, dan berharap bahwa koalisi pimpinan AS akan membantu meringankan beban.

Halaman Selanjutnya
img_title