UPDATE IRAN: Gempuran Hizbullah ke Markas Militer Israel Tewaskan 18 IDF, Banyak Masih Terperangkap Reruntuhan
- Siap.viva/Sprinter Press
Siap – Darah kembali mengalir di medan perang Lebanon.
Setidaknya 18 tentara Israel (IDF) tewas akibat serangan rudal Hizbullah terhadap beberapa markas militer Israel dalam pembalasan terbarunya.
Perwira militer berpangkat tinggi ikut tewas.
Banyak tentara lainnya masih terperangkap di antara reruntuhan, menurut laporan Israel.
Serangan balasan ini terjadi hanya sehari setelah Israel melancarkan operasi terbesarnya di Lebanon sejak perang dimulai.
Berdasarkan laporan Apa.az, pada Rabu, 8 April 2026, Israel menjatuhkan lebih dari 160 bom dalam 10 menit ke berbagai target di Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan.
Detail Serangan Balasan Hizbullah
Hizbullah mengonfirmasi bahwa mereka meluncurkan roket ke wilayah utara Israel sebagai respons atas apa yang mereka sebut "pelanggaran gencatan senjata" oleh Israel.
"Hingga serangan Israel-Amerika terhadap negara dan rakyat kami berhenti, respons ini akan terus berlanjut," demikian pernyataan resmi kelompok tersebut.
Sumber militer Israel mengkonfirmasi bahwa beberapa markas militer di dekat perbatasan utara terkena serangan rudal presisi.
Seorang perwira tinggi yang bertugas di komando regional utara dikabarkan termasuk dalam daftar korban tewas.
Tim penyelamat IDF masih berupaya mengevakuasi tentara yang terperangkap di bawah reruntuhan bangunan markas yang hancur.
Jumlah korban dikhawatirkan masih akan bertambah.
Sebelumnya, pada Selasa (7/4/2026), seorang tentara IDF telah tewas dalam baku tembak dengan militan Hizbullah di Lebanon selatan.
Sersan Pertama Touvel Yosef Lifshiz, 20 tahun, dari Beit Shean, menjadi korban ke-12 sejak permusuhan kembali pecah.
Ironi di Tengah Gencatan Senjata
Iran Kunci Hormuz dan Uranium
- Istimewa
Yang membuat situasi ini begitu kompleks adalah timing-nya.
Serangan balasan Hizbullah terjadi hanya dua hari setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan tegas menyatakan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut.
"Tidak ada gencatan senjata di Lebanon. Kami terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan penuh, dan kami tidak akan berhenti," ujar Netanyahu dalam video yang diunggah ke media sosial.
Pernyataan ini langsung menuai kecaman internasional.
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menyatakan bahwa serangan Israel sudah jelas salah dan seharusnya tidak terjadi.