UPDATE IRAN: Hingga 24.000 Tentara Israel Diduga Alami Cedera Otak Traumatis

Haaretz ungkap krisis kesehatan tentara Israel
Sumber :
  • Siap.viva/MintPress News

Siap – Di tengah hiruk-pikuk serangan udara dan rudal balistik yang diluncurkan antara Israel dan Iran, sebuah bom waktu lain diam-diam meledak di dalam masyarakat Zionis.

Israel Ngebet Lanjut Perang dengan Iran, Begini Skenario Zionis-AS Jika Teheran Membalas

Bom waktu itu bukan berbahan peledak, melainkan berupa cedera otak yang diderita oleh puluhan ribu tentaranya sendiri.

Sebuah investigasi mendalam oleh media terkemuka Israel, Haaretz, baru-baru ini mengungkap fakta mengejutkan.

Rencana Serangan Besar AS dan Israel Bocor, Iran: Kami Tak Akan Pernah Tunduk, Akankah Terjadi Perang Besar?

Meskipun militer Israel hanya mengkonfirmasi sekitar 400 kasus cedera otak traumatis (CBT) atau Traumatic Brain Injury (TBI) pada tentara yang bertempur di Gaza, laporan tersebut mengklaim bahwa angka sebenarnya mendekati angka 24.000 tentara.

Kesenjangan data yang sangat timpang ini bukan sekadar kesalahan administratif.

Tak Sudi Diatur Trump, Iran Pede Balas Ancaman Perang Amerika: Jika Mereka Ingin Menguji Kami Sekali Lagi, Silahkan

Ini adalah cerminan dari krisis kemanusiaan berskala besar yang sistematis terabaikan.

Investigasi Haaretz menyoroti kegagalan sistemik yang mengkhawatirkan: rezim Israel belum mengembangkan rencana yang tepat untuk menangani isu besar yang dihadapi oleh sejumlah besar tentaranya dengan berbagai tingkat keparahan.

Para ahli yang dikutip oleh media Al-Quds menjelaskan bahwa diagnosis TBI seringkali sangat kompleks karena gejalanya yang tumpang tindih dengan Gangguan Stres Pasca Trauma (PTSD).

Seorang profesor psikologi eksperimental, Profesor Alon Friedman, menyebut fenomena ini sebagai "trauma ganda," di mana kerusakan otak organik bercampur dengan keruntuhan psikologis.

Kisah para veteran ini mengerikan.

Laporan-laporan media Ibrani menggambarkan tentara yang kembali dari Gaza berubah menjadi "orang asing" bagi keluarga mereka sendiri.

Mereka menghadapi kesulitan parah dalam memahami situasi sosial, membuat keputusan harian yang sederhana, serta mengalami gangguan tidur dan kehilangan ingatan yang akut.

Kesaksian seorang ibu dari tentara Oz Okampo, yang cedera di Khan Yunis, menggambarkan secara gamblang tragedi ini.

Sang ibu berkata bahwa keluarganya menerima "orang yang sama sekali berbeda" dari orang yang mereka lepas saat berangkat wajib militer.

Hal senada diungkapkan keluarga tentara Udi Reches (20 tahun), yang kehilangan kemampuan bicaranya selama berminggu-minggu setelah cedera.

Keluarganya harus mengajarinya kembali keterampilan dasar, mulai dari membentuk kalimat sederhana hingga mengelola urusan harian.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga melaporkan bahwa seperempat dari korban luka di Gaza menderita cedera yang mengubah hidup, termasuk cedera otak traumatis, yang membutuhkan layanan rehabilitasi selama bertahun-tahun ke depan.

Halaman Selanjutnya
img_title