Zionis Israel Langgar Gencatan Senjata, AS Merengek Minta Buka Selat Hormuz
- Istimewa
Siap – Selang beberapa jam setelah gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan pada Selasa (7/4/2026), Timur Tengah kembali berguncang.
Israel melancarkan serangan udara terbesar ke Lebanon sejak konflik meletus.
Lebanon mencatat hari paling berdarah. Sedikitnya 254 warga sipil tewas dan 1.165 lainnya luka-luka.
Ibu kota Beirut menjadi salah satu wilayah yang paling babak belur akibat gempuran bertubi-tubi.
Iran tidak tinggal diam. Teheran langsung mengambil langkah dramatis dengan menutup kembali Selat Hormuz.
Langkah ini mengancam pasokan minyak dunia dan membuat AS panik.
Israel Langgar Gencatan Senjata, 254 Tewas di Lebanon
Potret Ilustrasi
- Istimewa
Serangan Israel terjadi pada Rabu (8/4/2026) sore waktu setempat.
Militer Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 100 lokasi yang diklaim sebagai basis Hizbullah hanya dalam waktu 10 menit.
Sasaran tersebar di Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon Selatan.
Dampaknya sungguh mengerikan. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa 254 orang tewas dan 1.165 lainnya luka-luka pada hari itu saja.
Sejak konflik dimulai pada Maret 2026, total korban jiwa di Lebanon kini mencapai 1.739 orang tewas dan 5.873 terluka.
Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Turk, mengecam keras serangan ini.
"Skala pembunuhan dan kehancuran di Lebanon hari ini sungguh mengerikan. Pembantaian seperti ini, hanya beberapa jam setelah menyetujui gencatan senjata dengan Iran, sungguh di luar nalar," ujar Turk.
Hizbullah Balas: Roket ke Israel Utara
Hizbullah tidak tinggal diam.
Dini hari tadi, tepat pukul 02.30 waktu setempat, kelompok perlawanan Lebanon itu meluncurkan roket ke pemukiman Manara di Israel utara.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip pada Kamis (9/4/2026), Hizbullah menegaskan bahwa aksi ini adalah bentuk pembelaan terhadap Lebanon dan rakyatnya.
"Ini sebagai tanggapan atas pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh musuh, dan setelah perlawanan mematuhi gencatan senjata sementara musuh tidak," bunyi keterangan tersebut.
Hizbullah juga mengirim peringatan keras.
"Tanggapan ini akan berlanjut sampai agresi Israel-Amerika terhadap negara dan rakyat kami berhenti," tegas pernyataan itu.
Republik Islam Tutup Selat Hormuz, AS Panik
Langkah paling dramatis datang dari Iran.
Pada Rabu (8/4) malam, Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz.