Ketika Menteri HAM Jengkel Depok Dicap Kota Intoleran: Itu Hanya Opini Negatif
- Istimewa
Siap – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai membantah keras tudingan yang menyebut Jawa Barat khususnya Depok, dicap sebagai kota intoleran.
Hal itu disampaikan Pigai saat menghadiri rapat dengar pendapat dengan Anggota Komisi XIII DPR pada Selasa, 7 April 2026.
Awalnya Pigai memastikan, bahwa efisiensi anggaran tidak akan menghambat program-program kerja yang dilakukan jajaran Kementerian HAM.
"Saya janji di dalam meja parlemen ini bahwa sebagaimana yang tadi sampaikan, dengan adanya efisiensi dan pemotongan dan lain itu tidak akan mempengaruhi kinerja," katanya dikutip pada Rabu, 8 April 2026.
"Kita sudah antisipasi semuanya tidak akan mempengaruhi kinerja. Istilahnya satu lampu pun tidak padam. Itu normal kita akan jalankan," sambung dia.
Kemudian, Pigai menyinggung soal banyaknya laporan atau aduan terkait pelanggaran HAM di Indonesia.
Ia berharap, ada saran atau masukan dari DPR terkait kasus apa saja yang perlu mendapat perhatian lebih.
"Tapi saya menolak kalau dibilang Jawa Barat itu intoleran. Ini saya sebagai Menteri HAM sekaligus orang yang tinggal di Jawa Barat 25 tahun," tegasnya.
Menurut Pigai, itu adalah tudingan yang tidak mendasar, termasuk ketika Depok dituding sebagai kota intoleran. Menurut dia justru sebaliknya.
Umat beragama di kota tersebut hidup dengan rukun dan damai secara berdampingan. Itu artinya toleransi dijunjung tinggi.
"Depok itu tidak pernah ada penyegelan soal agama. Jawa Barat itu juga jarang. Itu hanya opini negatif yang sudah terbangun sekian lama. Seakan-akan Jawa Barat itu intoleran," katanya.
"Ini saya berdasarkan pengalaman, berdasarkan pemantauan saya, berdasarkan penelitian saya. Jawa Barat hanya satu kasus saja muncul itu dianggap wah luar biasa, Jawa Barat ini intoleran," keluhnya.
Pigai mengatakan, publik harus melihat secara luas.
"Sekarang kita sudah mengarahkan melihat secara Indonesia itu dengan kacamata yang lebih luas. Bahwa intoleran itu ada di wilayah kaum minoritas. Intoleran itu ada di wilayah kaum mayoritas," bebernya.
Ia berpendapat, makin ke Timur orang Islam juga mengalami penderitaan.
Kemudian di NTT juga sama, begitupun Bali.