UPDATE IRAN: Trump Disorot Media Inggris, Retorika Vulgar Dinilai Ganggu Citra Amerika Serikat
- Siap.viva/Middle East Observer
Siap – Sebuah pertanyaan yang sebelumnya hanya berbisik di koridor kekuasaan, kini mulai bergema keras di media internasional.
Surat kabar bergengsi Inggris, The Sunday Times, melaporkan bahwa pertanyaan tentang kondisi mental Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin meningkat.
Pemicunya adalah unggahan media sosial Trump yang sarat kata-kata kasar dan ancaman terhadap Iran pada Minggu, 5 April 2026 Paskah lalu.
Retorika yang dinilai vulgar dan belum pernah terjadi sebelumnya sebagai kepala negara ini membuat para kritikus dan bahkan mantan sekutu Trump angkat bicara.
The Sunday Times menyebut bahwa Trump menggunakan retorika vulgar yang belum pernah terjadi sebelumnya sebagai kepala negara terhadap Iran.
Sikap ini dinilai bertentangan dengan prinsip-prinsip wacana seorang presiden.
Pemicu Badai Kritik
Apa sebenarnya yang memicu gelombang kritik ini?
Pada Minggu pagi, 5 April 2026, Trump melontarkan ancaman langsung ke Iran melalui platform Truth Social.
"Buka Selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka", tulis Trump.
Unggahan ini muncul dalam rangkaian ancaman yang lebih luas.
Trump memberi Iran tenggat waktu hingga Selasa, 7 April 2026, untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Jika tidak, ia mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di seluruh Iran.
Para kritikus Trump langsung menafsirkan nada keras ini sebagai tanda ketegangan dan kebingungan.
Mereka mengatakan bahwa tindakan ini dapat digunakan untuk merusak citra Amerika dan menimbulkan keraguan tentang rasionalitas Trump.
Yang menarik, kecaman tidak hanya datang dari kubu oposisi.
Bahkan mantan sekutu setia Trump pun ikut angkat bicara.
Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer langsung mengecam keras.
"Selamat Paskah, Amerika. Saat kalian pergi ke gereja dan merayakan bersama keluarga, Presiden Amerika Serikat sedang meracau seperti maniak yang tidak stabil di media sosial," tulis Schumer di X.
"Dia mengancam kemungkinan kejahatan perang dan mengasingkan sekutu. Ini adalah dirinya, tapi ini bukanlah diri kita. Negara kita pantas mendapatkan yang jauh lebih baik."
Senator Bernie Sanders menggunakan kata-kata yang lebih keras.