Iran Peringatkan Prancis agar Tidak Memperluas Konflik di Tengah Perang dengan AS dan Israel
- Istimewa
Serangan itu terjadi setelah pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, pada 28 Februari.
Serangan tersebut juga menewaskan sejumlah komandan militer senior Iran.
Beberapa warga sipil turut menjadi korban dalam operasi militer itu.
Serangan-serangan tersebut melibatkan serangan udara besar-besaran terhadap lokasi militer dan sipil di seluruh Iran, menyebabkan banyak korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang meluas.
WHO mencatat lebih dari 1.800 orang tewas dan ribuan lainnya terluka dalam waktu kurang dari dua minggu.
Sebagai tanggapan, Angkatan Bersenjata Iran telah melakukan operasi pembalasan, menargetkan posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan dan di pangkalan-pangkalan regional dengan gelombang rudal dan drone.
Hingga hari ini, serangan telah mencapai gelombang ke-53, menargetkan pusat komando Israel dan pangkalan-pangkalan AS seperti Al-Dhafra di UEA.
Jalan Sempit Diplomasi di Tengah Perang
Percakapan Araghchi-Barrot dan pernyataan kontras dari para pejabat Prancis menunjukkan adanya ruang diplomasi yang masih terbuka, meskipun di tengah deru perang.
Iran, melalui pernyataan resminya, berusaha meyakinkan negara-negara Eropa bahwa mereka tidak mengincar negara kawasan, dan bahwa pintu untuk menahan diri masih terbuka asalkan agresi dihentikan.
Di sisi lain, Prancis tampaknya berusaha berjalan di atas tali yang sangat sempit.
Mereka ingin menjaga hubungan dengan sekutu lamanya, AS, namun tanpa harus terjerumus ke dalam perang yang tidak mereka inginkan.
Pengerahan armada laut besar-besaran dengan dalih misi kemanusiaan dan pengawalan adalah cara untuk tetap hadir di kawasan tanpa secara eksplisit bergabung dalam koalisi perang Trump.
Pertanyaan besarnya, berapa lama lagi Prancis dan negara-negara Eropa lainnya bisa mempertahankan posisi ambigu ini?
Jika konflik terus bereskalasi dan serangan balasan Iran semakin meluas, tekanan untuk memihak akan semakin sulit dihindari.
Namun, untuk saat ini, Paris telah memberikan jawaban yang jelas: tidak ada kapal perang untuk perang AS di Selat Hormuz.