Iran Peringatkan Prancis agar Tidak Memperluas Konflik di Tengah Perang dengan AS dan Israel
- Istimewa
Ia menegaskan kembali tekad negaranya untuk mempertahankan kedaulatan, martabat, integritas wilayah, dan keamanan nasional.
Ia pun menekankan bahwa Teheran tidak akan mundur dalam melindungi kepentingan nasionalnya. Menurutnya, semua langkah militer Republik Islam bersifat defensif.
Tindakan tersebut secara khusus menargetkan pangkalan dan fasilitas militer milik para agresor di kawasan.
Ia juga menegaskan bahwa operasi itu tidak ditujukan kepada negara-negara lain di kawasan.
Karena itu, Teheran meminta agar langkah tersebut tidak ditafsirkan sebagai serangan terhadap negara regional.
Pernyataan ini penting mengingat serangan balasan Teheran kerap menyasar pangkalan-pangkalan yang berada di wilayah negara-negara Teluk, seperti UEA, Bahrain, dan Qatar, yang menjadi rumah bagi aset militer AS.
Iran ingin memastikan bahwa negara-negara tersebut tidak salah memahami serangan ini sebagai agresi terhadap mereka, melainkan sebagai bagian dari perang melawan AS dan Israel yang kebetulan bercokol di wilayah mereka.
Akar penyebab ketidakamanan di seluruh wilayah, termasuk Lebanon, adalah agresi dan hegemoni rezim Zionis, kata Araghchi, menambahkan bahwa memulihkan ketenangan di Lebanon bergantung pada pengakhiran pendudukan dan penghentian serangan serta agresi rezim Israel.
Kedua diplomat senior itu juga membahas berbagai masalah konsuler.
Respons Prancis
Peringatan dari Teheran ini diterima Paris di saat posisi mereka sedang berada di ujung tanduk.
Di satu sisi, sebagai sekutu tradisional AS dan anggota NATO, Prancis mendapat tekanan untuk menunjukkan solidaritas.
Di sisi lain, keterlibatan langsung dalam konflik berisiko memicu serangan balasan terhadap kepentingan dan warga negaranya di kawasan.
Sikap hati-hati Paris sebenarnya sudah terlihat sejak awal konflik.
Presiden AS Donald Trump menyerukan kepada Prancis, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirim kapal perang.
Ia meminta negara-negara tersebut bergabung dengan Amerika Serikat untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan aman.
Seruan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di jalur energi strategis tersebut.
Namun Prancis merespons berbeda terhadap permintaan Washington.
Menteri Angkatan Bersenjata dan Urusan Veteran Prancis, Catherine Vautrin, menyatakan Paris tidak memiliki rencana mengirim kapal angkatan laut.