Berapa Lama Iran Sanggup Bertahan Hadapi Amerika-Israel Sendirian?
- Istimewa
Siap – Memasuki hari ke 9 pada 8 Maret 2026, perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel hingga kini masih terus berlanjut. Masing-masing pihak saling klaim serangan target telah menghancurkan musuh.
Yap, meski telah digempur operasi gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel, dan menyebabkan Pemimpin Tertinggi Republik Islam, Ayatollah Khamenei gugur, namun nyatanya Teheran masih berdiri tegak.
Bahkan, sejumlah pejabat di negeri tersebut menegaskan, siap perang jangka panjang dan menolak segala bentuk negosiasi dengan Amerika.
Namun muncul pertanyaan, berapa lama Iran mampu melawan AS dan Israel dalam pertempuran kali ini?
Dilansir dari YouTube Kompas, pada hari pertama perang meletus, Sabtu 28 Februari 2026, militer Israel memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.500 rudal balistik. Jumlah tersebut diyakini telah berkurang drastis.
Bukan hanya karena Korps Garda Republik Islam atau IRGC menembakkan rudal ke berbagai sasaran di kawasan, tetapi juga akibat serangan gabungan AS-Israel yang menghancurkan sejumlah lokasi penyimpanan amunisi Teheran.
Seorang pakar senjata kepada menilai, pengejaran terhadap peluncur rudal bergerak IRGC kini kian intens.
Namun ia menyebut belum jelas berapa banyak rudal yang telah dipindahkan dari fasilitas yang diserang dan disebarkan ke berbagai lokasi di Iran sebelum perang pecah, maupun berapa jumlah peluncur rudal yang masih berfungsi.
Serangan Iran dilaporkan hantam pangkalan AS
- Siap.viva/Iranin Arabic
Sementara itu, militer Israel pada Rabu 4 Maret memperingatkan Iran masih memiliki kemampuan signifikan untuk melancarkan serangan terhadap Israel.
Meski berbagai fasilitas militernya telah diserang, IRGC juga diyakini mampu meningkatkan produksi drone dalam waktu singkat.
Menurut dokumen Rusia yang bocor, Teheran diperkirakan mampu memproduksi 5.000 drone per bulan.
Salah satu drone yang banyak digunakan adalah Shahed dengan biaya pembuatan hanya beberapa ribu dolar per unit.
Profesor Hubungan Internasional di London School of Economics, Fawaz A. Gerges, menyebut Iran berusaha memperpanjang perang.
Menurutnya, Teheran juga sedang bermain-main dengan waktu. Gerges mengatakan kepemimpinan Teheran telah memiliki waktu untuk merencanakan serta mengkoordinasikan langkah militernya.
Menurut Gerges, tujuan utama rezim tersebut adalah ketahanan, kemampuan bertahan, menyerap serangan, lalu melanjutkan perlawanan.