Harga Minyak Bergejolak Usai Ancaman AS ke Iran, Pasar Global Ikut Terseret
- Siap.viva/ICDX
Siap – Pergerakan harga minyak kembali menjadi sorotan global pada Selasa (17/2). Pasar bereaksi cepat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan peringatan keras kepada Iran terkait negosiasi nuklir yang sedang berlangsung.
Komentar tersebut langsung memicu volatilitas di pasar energi, valuta asing, dan saham global.
Minyak mentah acuan West Texas Intermediate sempat melonjak lebih dari satu persen mendekati USD 64 per barel sebelum kembali terkoreksi.
Sementara itu, patokan global Brent Crude turun tipis ke bawah USD 69 per barel.
Fluktuasi cepat ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap dinamika politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah.
Ancaman baru dari Washington muncul menjelang putaran lanjutan perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Teheran.
Investor menilai potensi konflik atau sanksi tambahan bisa memengaruhi pasokan energi global, terutama di tengah kondisi perdagangan yang relatif sepi karena libur panjang di sejumlah bursa Asia dan Amerika Serikat.
Dampak Langsung ke Minyak dan Pasar Saham
Reaksi awal pasar terlihat jelas pada awal pekan. Bursa di Shanghai, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, dan Singapura masih tutup karena libur Imlek.
Minimnya aktivitas perdagangan membuat setiap sentimen geopolitik terasa lebih kuat.
Dengan likuiditas yang tipis, pergerakan harga minyak menjadi lebih tajam.
Pasar Amerika Serikat baru kembali dibuka pada Selasa setelah libur Hari Presiden.
Kondisi ini menambah ketidakpastian jangka pendek.
Harga emas tercatat turun di bawah USD 5.000 per ons, sedangkan perak merosot sekitar tiga persen.
Pergerakan logam mulia tersebut menandakan investor masih menimbang risiko global secara hati-hati.
Bursa Tokyo ditutup melemah 0,4 persen setelah Jepang melaporkan pertumbuhan ekonomi yang lemah pada kuartal IV 2025.
Data tersebut menambah tekanan pada pasar regional.
Perusahaan sekuritas Monex dalam catatannya menyebut pergerakan saham Jepang diperkirakan terbatas karena minimnya sentimen dari pasar AS yang sebelumnya tutup.
Di pasar valuta asing, dolar AS terhadap yen diperdagangkan di kisaran pertengahan 153 yen.
Pelemahan yen dinilai bisa membantu saham berorientasi ekspor di Jepang.
Namun, investor tetap berhati-hati karena faktor eksternal masih dominan.