Menakar Risiko Besar Amerika Jika Perang Lawan Iran
- Istimewa
Siap – Ketegangan di Timur Tengah kembali memunculkan pertanyaan lama, mengapa Iran sulit ditaklukkan meski ditekan oleh Amerika Serikat dan Israel?
Pertanyaan itu mengemuka seiring meningkatnya aktivitas militer dan pernyataan keras yang muncul dari sejumlah negara tersebut.
Iran telah menghadapi sanksi ekonomi selama puluhan tahun. Infrastruktur militernya diserang.
Sekutu regionalnya melemah. Namun negara itu masih dipandang sebagai lawan yang berisiko tinggi bagi kekuatan gabungan AS dan Israel.
Selama perang 12 hari pada Juni 2025, Israel mempertahankan superioritas udara penuh di atas wilayah Iran. Angkatan Udara Iran dinilai lemah. Sistem pertahanan udaranya juga terpukul oleh serangan presisi Israel.
Israel bahkan telah 'memenggal' kepemimpinan militer Iran dengan menargetkan jenderal-jenderal top.
AS gencet Iran soal kesepakatan nuklir baru
- Siap.viva/Gambar Metode AI
Di saat yang sama, jaringan proksi Iran di kawasan juga melemah. Houthi di Yaman, Hamas di Palestina, dan Hizbullah di Lebanon menghadapi tekanan militer.
Sekutu penting Iran di Suriah, Bashar al-Assad, juga telah melarikan diri dari negaranya dan hidup dalam pengasingan di Rusia.
Kendati Rusia sendiri sibuk dengan Perang Ukraina. Artinya, Teheran relatif sendirian secara militer.
China hanya diperkirakan memberi dukungan diplomatik dan ekonomi. Di dalam negeri, Iran juga menghadapi tekanan ekonomi berat.
Mata uangnya tertekan. Inflasi tinggi. Tantangan internal meningkat.
Namun di tengah kondisi tersebut, para analis militer menilai Iran tetap menghadirkan risiko besar bagi siapa pun yang mencoba menyerangnya secara langsung.
Geografi dan Energi: Kartu Strategis Iran
Salah satu faktor utama adalah posisi geografis Iran. Negara ini berada di dekat Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi dunia.
Sebagian besar pasokan minyak global melewati perairan ini.
Jika terjadi konflik, Iran berulang kali mengancam dapat menutup Selat Hormuz.
Penutupan dapat dilakukan dengan ranjau laut, rudal jelajah, sistem pertahanan pantai, dan kapal cepat. Dampaknya akan langsung terasa pada ekonomi global.
Negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Irak juga bergantung pada jalur ini.
Karena itu, banyak mitra regional AS berhati-hati terhadap potensi perang terbuka dengan Iran.