Netanyahu Kirim Sinyal Perang, Iran Jadi Fokus Ancaman Israel
- Istimewa
Siap – Perdana Menteri Zionis Israel Benjamin Netanyahu melontarkan peringatan keras kepada Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.
Ia menegaskan bahwa Zionis Israel tidak akan ragu bertindak dengan kekuatan yang belum pernah disaksikan sebelumnya jika Teheran melakukan serangan.
Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam pidatonya di Knesset, Parlemen Zionis Israel, saat situasi regional masih bergejolak.
Israel, kata dia, terus memantau kondisi Iran yang baru saja meredam gelombang protes besar melalui penindakan keras aparat keamanan.
Ancaman tersebut langsung menyita perhatian internasional karena muncul bersamaan dengan laporan pergerakan militer Amerika Serikat ke kawasan, yang berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah dalam waktu singkat.
Ancaman Netanyahu dan Sinyal Eskalasi
Potret ilustrasi rudal milik Iran
- Istimewa
Netanyahu menyampaikan pesan tegas kepada Teheran, dengan menekankan bahwa kesalahan kecil dapat berujung pada konsekuensi besar bagi Iran.
"Jika mereka melakukan kesalahan dan menyerang kita, kita akan bertindak dengan kekuatan yang belum pernah mereka alami," kata Netanyahu, seperti dikutip dari kantor berita Xinhua, Selasa (20/1/2026).
Pemimpin rezim Zionis Israel itu juga menyiratkan bahwa dampak konflik tidak akan bersifat sementara.
Menurutnya, masa depan Iran bisa berubah secara permanen jika memilih jalur konfrontasi terbuka dengan Zionis Israel.
"Tetapi negara itu tidak akan kembali seperti dulu," ujarnya.
Pernyataan tersebut dinilai sebagai sinyal politik dan militer sekaligus.
Di satu sisi, Israel ingin menunjukkan kesiapan penuh menghadapi ancaman eksternal.
Di sisi lain, pesan itu memperkuat efek deterensi di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Iran akibat situasi domestiknya.
Penindakan Protes di Iran Jadi Latar Ketegangan
Ancaman keras Israel ke Iran
- -
Ketegangan Zionis Israel-Iran tidak bisa dilepaskan dari kondisi internal Iran yang masih rapuh pasca-gelombang protes nasional.
Penindakan terhadap demonstran memicu kecaman global dan memperburuk hubungan Teheran dengan Barat.
Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat, sedikitnya 4.029 orang dilaporkan tewas dalam penindakan tersebut.
Lebih dari 26.000 orang lainnya ditahan oleh aparat keamanan.
Dari total korban tewas, 3.786 disebut sebagai demonstran, 180 anggota pasukan keamanan, 28 anak-anak, dan 35 orang yang tidak terlibat langsung dalam aksi protes.