Pecatan Brimob Pamer Jadi Tentara Bayaran Rusia, Gajinya 8 Kali Lipat UMR Jakarta
- Istimewa
Siap – Pecatan Brimob Polda Aceh, bernama Muhammad Rio tengah jadi sorotan Mabes Polri lantaran mengaku jadi tentara bayaran di Rusia.
Rio yang merupakan desersi atau pecatan Brimob Polda Aceh sejak Desember 2025 itu mengaku mendapat bayaran fantastis.
Tak hanya itu saja, ia pun mengaku telah naik pangkat setingkat letnan dua atau letda dengan jabatan komandan regu di Angkatan Perang Rusia.
Langkah yang dilakukan pecatan Brimob ini serupa dengan Satria Arta Kumbara, mantan anggota Marinir yang juga memilih jadi tentara bayaran untuk Rusia.
Rio sendiri tadinya berpangkat Bripda dan bertugas di Polda Aceh. Namun ia dipecat pada 8 Desember 2025.
Data yang dihimpun menyebutkan, Rio memiliki kemampuan di antaranya menguasai dua bahasa asing, yakni Inggris dan Rusia.
Adapun keputusan Rio memilih jadi tentara bayaran Rusia terungkap lewat media sosial.
Itu bermula ketika Rio mengirim pesan kepada rekannya yang merupakan anggota Provost bernama Aipda Bayu Aji dan komandannya AKP Ardiansyah.
"Assalamualaikum. Mohon izin komandan, mohon maaf atas keputusan saya sudah bulat. Saya sudah mendaftar online jadi tentara Europe sebanyak lima kali, USA Army satu kali, dan Germany dua kali," katanya.
"Namun saat mendaftar menjadi tentara Rusia lulus di tes kedua. Lulus menjadi tentara Rusia karena sewaktu ujian interview saya bisa dua bahasa, yakni English dan Russian. Dan pangkat saya saat ini Letda dengan awal bonus yang telah diberikan sebesar 2 juta rubel sama dengan Rp420 juta dan gaji per bulan 210k rubel sama dengan Rp42 juta per bulan," sambungnya.
Itu artinya, bayaran yang ia terima sekira 8 kali lebih besar dari UMR Jakarta yang per bulannya sekira Rp5.396.761.
Diketahui Rio sudah berkeluarga dan tinggal di Aceh memiliki anak dan istirnya bernama Cut Mela Maivira.
Rio dikenal memiliki prestasi, berdedikasi tinggi dan suka tantangan.
Aksi nekat eks Brimob itu sudah diketahui Mabes Polri.
Saat ini Div Hubinter Polri melalui Interpol Indonesia akan melakukan koordinasi dengan pihak NCB Interpol Moskow dan KBRI Moskow untuk mengejar Rio.