FSPI Kecam Konten Ferry Irwandi: Provokatif, Ganggu Psikologi Korban Bencana

Potret Koordinator FSPI Zuhelmi Tanjung
Sumber :
  • Istimewa

Siap –Koordinator Presidium Forum Silaturahmi Pemuda Islam (FSPI), Zuhelmi Tanjung, mengecam keras konten yang dipublikasikan oleh konten kreator Ferry Irwandi terkait bantuan pemerintah untuk korban bencana dan narasi adanya pemerkosaan di wilayah bencana Sumatera.

img_title Rahasia Website Cepat Naik di Google: Memahami Kekuatan Aged Domain untuk SEO

Ia menilai narasi yang disampaikan tidak tepat, sarat provokasi, dan berpotensi menimbulkan keresahan di tengah situasi darurat kemanusiaan.

"Momentum bencana seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat persatuan dan sinergi seluruh elemen bangsa, bukan justru dijadikan ajang menggiring opini publik dengan narasi provokatif", kata Zuhelmi dalam keterangan tertulisnya, Minggu (7/12/2025).

img_title FSPI Desak Pengadilan Bongkar Aliran Dana Buzzer Marcella Santoso, Tuntutan 17 Tahun Dipersoalkan

Ia menegaskan bahwa pemerintah bersama TNI–Polri, relawan, tenaga medis, dan berbagai unsur masyarakat telah bergerak cepat sejak awal bencana terjadi.

“Negara hadir di lapangan. Posko-posko dibuka, logistik disalurkan, evakuasi warga terus dilakukan, dan layanan kesehatan darurat berjalan. Banyak pihak bekerja tanpa henti di medan yang sangat sulit. Sayangnya, kerja kemanusiaan ini sering tidak terlihat oleh mereka yang hanya menyaksikan dari jauh,” ujarnya.

img_title Rektor UI Lepas Tim Tanggap Darurat Bencana ke Sumatera dan Aceh

FSPI menilai konten yang dibuat Ferry Irwandi dengan narasi adanya kasus pemerkosaan di wilayah bencana alam Sumatera justru berpotensi menyesatkan masyarakat dan membangun persepsi amoralnya masyarakat dari Sumatera dan persepsi keliru tentang kinerja aparat serta relawan.

Lebih jauh, Zuhelmi menekankan bahwa narasi tersebut juga dapat mengganggu kondisi psikologis para korban bencana yang sedang berjuang untuk pulih.

“Konten seperti itu bukan cerminan kepedulian, melainkan provokasi yang dibungkus dengan drama. Ini sangat berbahaya, karena bisa menurunkan kepercayaan publik sekaligus melukai perasaan para korban,” tegasnya.

Zuhelmi juga menyoroti adanya indikasi muatan politis dalam konten tersebut. Menurutnya, bencana bukan ruang untuk sensasi, apalagi untuk dimanfaatkan sebagai kendaraan kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.

“Menjadikan penderitaan rakyat sebagai bahan konten adalah bentuk eksploitasi. Kepedulian itu ditunjukkan dengan kerja nyata, bukan dengan narasi yang berpotensi memecah belah,” katanya.

Di sisi lain, FSPI memberikan apresiasi kepada seluruh relawan, aparat, serta instansi pemerintah yang terus bekerja di tengah cuaca ekstrem dan medan berat dalam proses penanganan bencana.

Halaman Selanjutnya
img_title