UI dan NUS Kolaborasi Kurangi Karbon
- istimews
Hakim dari Energy Advisor at Energy Management Investment B.V, Alfath Alima menambahkan, perubahan iklim adalah isu kompleks yang tidak bisa diselesaikan dari satu sisi saja. Dampaknya luas, yakni sosial, ekonomi, lingkungan, bahkan budaya.
“Maka dari itu, masyarakat harus menjadi bagian utama solusi, bukan sekadar objek kebijakan. Sebab masyarakatlah yang sehari-hari juga menghasilkan jejak karbon dari aktivitasnya,” katanya.
Menurut Alfath, dampak iklim bukan sekadar soal cuaca namun perubahan iklim juga mengancam budaya lokal.
“Di Sumba, atap rumah adat biasanya menggunakan alang-alang. Namun sekarang sudah beralih ke seng; bukan karena lebih praktis, tetapi karena alang-alang sulit didapat. Jadi, perubahan iklim mengubah ekosistem dan warisan budaya pun ikut terancam. Ini refleksi penting, krisis iklim bukan hanya tentang suhu bumi naik, tapi juga tentang identitas dan keberlanjutan hidup kita,” bebernya.
Dia mengatakan bahwa kisah dari Sumba mengajarkan bahwa transisi energi harus berbasis masyarakat serta mengedukasi dan memberdayakan sumber daya masyarakat (SDM) setempat. Ketahanan energi sebaiknya mampu membangun ketahanan sosial, serta yang terpenting bahwa perubahan iklim adalah tren yang nyata dan bahkan terasa sampai ke akar budaya.
Dosen UI Muhammad Fatahillah, menjelaskan, isu lingkungan tidak hanya melibatkan negara, tetapi ada masyarakat sipil, sektor swasta, lembaga internasional, dan komunitas adat, di mana semuanya membawa kepentingan.
Contohnya, lanjutnya, negara-negara utara meminta negara-negara selatan menjaga hutannya. Dalam pendekatan post-kolonial.
“Ini terlihat seperti beban sepihak, di mana mereka dulu merusak lewat revolusi industri, sekarang kita yang disuruh menjaga. Dalam Konferensi Rio dan Agenda 21, universitas diakui sebagai bagian dari komunitas epistemik, yaitu kelompok yang menghasilkan pengetahuan ilmiah, memberi rekomendasi kebijakan, dan mendorong perubahan sosial. Perubahan iklim bukan hanya soal apa yang harus dilakukan, tetapi juga siapa yang mengambil keputusan, untuk siapa, dan dengan cara apa,” katanya.