Menteri Agus Semprot Pegawai Imigrasi Bertato yang Peras WNA: Penjarakan Ini, Proses Hukum!
- Istimewa
Siap – Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto tak kuasa menahan emosi begitu mengetahui ada pegawainya yang memiliki tato bak preman.
"Saya menerima laporan di Bali ini ada pegawai baru 2 tahun tatonya kayak preman itu. Ini saya enggak ngerti ini apa penyakit mental kali ya," katanya dikutip pada Rabu, 6 Agustus 2025.
"Manusia ini apa hebatnya sih? Kalau kena sakit gigi enggak ada hebatnya tuh tato. Siapa pernah sakit gigi? Biar tato satu badan, kalau sakit gigi ya meriang juga tuh," sambungnya.
"Jadi pegawai baru sebentar jadi opo? Menggunakan jabatannya sebagai petugas imigrasi. Orang asing pasti takut sama dia. Terus jadi preman," timpal dia lagi.
Tadinya Agus enggan mempersoalkan, karena mengira pegawainya itu hanya memiliki tato kecil.
"Saya lihat awalnya saya mau bantu itu, masuk kasus kecil. Mana tahu saya pikir kasusnya kecil. Giliran saya ditunjukkan, ini loh pak tatonya. Loh, waduh," ujarnya kaget.
Mantan Wakpolri itu menegaskan, bahwa dirinya bukan anti tato.
"Kalau kelihatan kecil ya enggak apa-apalah. Tapi ini tato sepanjang badan. Saya telepon kapolda-nya penjarakan ini, proses hukum," tegasnya.
"Kalau kejahatannya banyak udah nanti kita pecat aja yang begitu. Sudah enggak niat jadi pegawai. Membuat malu. Sudah jadi debt collector, yang menjadi korban orang asing. Bagi dua lagi. Itu ada lagi yang lain yang terlibat," sambung Agus.
Saking kesalnya, Agus bahkan mengancam akan memecat pegawai imigrasi maupun lembaga pemasyarakatan yang banyak tingkah, terlebih terjerat kasus pidana.
"Siapapun yang terlibat pecat ajalah yang begitu-begitu. Kita tidak butuh. Yang butuh menjadi pegawai imigrasi dan pemasyarakatan adalah teman-teman semua," tuturnya di hadapan sejumlah pejabat imigrasi dan pemasyarakatan.
Lebih lanjut Agus kembali mengingatkan, bahwa imigrasi dan pemasyarakatan sebagai institusi tidak butuh pegawai banyak tingkah.
Apalagi jika lulusan Akademi Imigrasi atau AIM dan Poltekip.
"Jadi yang butuh itu kita, yang butuh kita dengan institusi ini. Kalau bisa kita jaga bareng-bareng. Jangan sampai institusi ini menjadi institusi yang kita permalukan," ucapnya.