BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem Masih Jadi Ancaman! Coba Cek Daerahmu di Sini
- Siap.viva/Pixabay
Siap – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan masyarakat bahwa cuaca ekstrem masih mengancam berbagai wilayah Indonesia.
Peringatan ini disampaikan meski musim kemarau secara kalender telah dimulai.
Hingga akhir Juni 2025, baru sekitar 30 persen zona musim benar-benar mengalami kondisi kemarau kering.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan bahwa berbagai faktor atmosfer global dan regional masih mendukung pembentukan awan hujan yang intens.
“Meskipun kita sudah memasuki pertengahan musim kemarau, berbagai faktor atmosfer global dan regional masih mendukung terjadinya hujan lebat dan cuaca ekstrem di banyak wilayah,” kata Dwikorita, Jumat (11/7/2025).
Ancaman Hujan Deras dan Petir Masih Tinggi
Fenomena atmosfer seperti gelombang ekuatorial Rossby dan Kelvin, sirkulasi siklonik, serta zona konvergensi angin menjadi pemicu terbentuknya awan konvektif penyebab hujan deras.
BMKG mencatat curah hujan tinggi di berbagai wilayah dalam beberapa hari terakhir, termasuk Papua, Kalimantan Barat, dan Sumatra.
Pada 9 Juli 2025, intensitas hujan di Nabire dan beberapa daerah di Kalimantan mencapai lebih dari 50 mm.
Sehari sebelumnya, hujan sangat lebat mengguyur Papua Barat, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Maluku, dan Papua.
Akibatnya, sejumlah wilayah mengalami banjir, longsor, genangan air, pohon tumbang, dan kerusakan infrastruktur.
Prediksi Cuaca Ekstrem 12–18 Juli 2025
BMKG memperkirakan potensi cuaca ekstrem tetap tinggi dalam sepekan ke depan.
Hujan lebat disertai petir dan angin kencang berisiko melanda Aceh, Sumatra Utara, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Status siaga telah diberlakukan untuk beberapa wilayah dengan risiko tinggi bencana hidrometeorologi.
Angin kencang juga diprediksi terjadi di Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.
Selain itu, gelombang tinggi akan menghantam berbagai perairan Indonesia, termasuk Laut Jawa bagian timur, Laut Arafuru, Laut Timor, dan Samudera Hindia selatan Jawa dan NTT, dengan kecepatan angin di atas 25 knot.
Imbauan untuk Waspada
Dwikorita mengingatkan masyarakat agar tidak lengah terhadap potensi cuaca ekstrem.
“Masyarakat harus tetap waspada, meskipun secara kalender kita berada di musim kemarau. Jangan lengah. Cuaca bisa berubah cepat dan membawa dampak besar,” tegasnya.