Bebek Peking Ungkep El Cibi: Olahan Kuliner Lapas Cibinong yang Siap Bersaing di Pasaran
- Istimewa
Siap – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Cibinong terus berinovasi dalam mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan.
Adapun satu hasil nyata dari program tersebut adalah produk kuliner unggulan Bebek Peking Ungkep El Cibi.
Menu olahan daging bebek ini diproduksi langsung oleh warga binaan melalui pembinaan keterampilan di bidang pengolahan pangan.
Produk tersebut menjadi bukti konkret keberhasilan program pembinaan kemandirian Lapas Cibinong.
Petugas tidak hanya membekali warga binaan dengan keterampilan kerja, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomis dan berdaya saing di tengah masyarakat.
Proses produksi Bebek Peking Ungkep El Cibi dilakukan secara menyeluruh oleh warga binaan, mulai dari pemilihan bahan baku bebek peking berkualitas, proses pembersihan, peracikan bumbu rempah pilihan, pengungkepan, hingga pengemasan secara higienis dan profesional.
Menariknya, bahan baku utama berupa bebek peking yang digunakan berasal dari hasil program peternakan bebek pedaging di Lapas Cibinong.
Konsep ini menciptakan sistem pembinaan terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari budidaya ternak sampai pengolahan menjadi produk siap konsumsi.
Kepala Lapas Cibinong, Wisnu Hani Putranto, menyampaikan bahwa inovasi tersebut merupakan wujud nyata komitmen Lapas Cibinong dalam menghadirkan pembinaan yang produktif, aplikatif, dan berkelanjutan.
Wisnu juga mengatakan, program ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis kepada warga binaan, tetapi juga menanamkan semangat kerja, kreativitas, serta jiwa kewirausahaan sebagai bekal ketika mereka kembali ke masyarakat.
"Bebek Peking Ungkep El Cibi merupakan hasil nyata dari proses pembinaan kemandirian yang kami jalankan," katanya pada Kamis, 7 Mei 2026.
Lebih lanjut Wisnu menerangkan, program pengembangan Bebek Peking Ungkep El Cibi ini juga selaras dengan akselerasi pembinaan produktif di lingkungan pemasyarakatan.
Hal itu sekaligus menjadi bagian dari implementasi 15 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan dan pemberdayaan warga binaan melalui pembinaan berbasis keterampilan.
Salah satu warga binaan yang terlibat dalam proses produksi, berinisial K, mengungkapkan bahwa program tersebut memberikan pengalaman dan keterampilan baru yang sangat bermanfaat bagi dirinya.
“Saya belajar banyak hal, mulai dari proses pengolahan makanan, menjaga standar kebersihan, hingga cara membuat produk yang layak jual. Ini menjadi bekal berharga bagi saya setelah kembali ke masyarakat nanti,” ungkap K.