Pesan tersebut disampaikan dalam Townhall Hasnur Group 2026 yang digelar di Gedung Swasana BRIN, Jakarta.
Forum ini menjadi ajang konsolidasi internal sekaligus penegasan arah strategis perusahaan dalam jangka panjang.
Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai pertemuan tahunan.
Townhall juga menjadi momentum menyelaraskan visi seluruh unit usaha agar bergerak dalam satu arah menghadapi perubahan.
Tema “Living Our Values, Innovating Through the Change” menegaskan pentingnya inovasi yang berakar pada nilai perusahaan.
Hasnur Group melihat tahun 2026 sebagai periode yang penuh tantangan.
Perubahan pasar, tekanan ekonomi global, dan tuntutan keberlanjutan mendorong perusahaan untuk beradaptasi lebih cepat.
Karena itu, fondasi manusia dan tata kelola dianggap sebagai kunci utama menjaga pertumbuhan.
Fokus pada manusia dan budaya kerja
Presiden Direktur Hasnur Group, Jayanti Sari, menekankan pentingnya melihat perusahaan dari perspektif jangka panjang.
Ia menggambarkan Hasnur Group sebagai kapal besar yang membutuhkan arah jelas dan kompas tepat.
“Dengan tujuh Strategic Business Unit yang memiliki karakter berbeda, tantangan kita adalah memastikan seluruh unit tetap bergerak dalam satu arah menuju masa depan Hasnur Group yang berkelanjutan,” ujar Jayanti Sari, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 4 Februari 2026.
Menurutnya, keselarasan antarunit usaha menjadi faktor penting.
Tanpa arah yang sama, pertumbuhan akan sulit dicapai secara optimal.
Karena itu, penguatan budaya kerja menjadi prioritas.
Perusahaan memperkenalkan program New Working Culture sebagai bagian dari transformasi internal.
Program ini dirancang untuk mendorong kolaborasi, adaptasi, dan efektivitas kerja.
Selain itu, pembentukan Komite Transformasi Bisnis diharapkan mampu memastikan perubahan berjalan terarah.
Langkah tersebut dinilai relevan dengan kondisi bisnis saat ini.
Banyak perusahaan menghadapi tekanan efisiensi sekaligus tuntutan inovasi.
Kombinasi keduanya membutuhkan budaya kerja yang kuat dan fleksibel.
Townhall juga diawali dengan pembacaan Tujuh Nilai Inti Hasnur Group.
Hal ini menjadi simbol penguatan identitas perusahaan.
Nilai inti dianggap sebagai fondasi perilaku kerja di seluruh entitas.
Kepemimpinan dan tata kelola jadi sorotan
Dalam sesi talkshow, Hasnur Group menghadirkan Toto Suharto, Country Manager RMA Group Indonesia.
Ia menekankan bahwa kepemimpinan dan budaya organisasi memiliki peran penting dalam menentukan hasil.
“Hasil terbaik hanya dapat dicapai ketika keyakinan dibangun dari dalam diri, dikelola menjadi budaya, dan diwujudkan melalui aksi yang konsisten. Transformasi budaya adalah proses yang harus dikelola secara sadar dan berkelanjutan,” ujar Toto Suharto.
Diskusi panel juga menghadirkan jajaran pimpinan perusahaan.
Mereka menyoroti pentingnya tata kelola yang kuat dan kepemimpinan berbasis kompetensi.
Perusahaan menilai transformasi tidak akan berhasil tanpa fondasi tata kelola yang solid.
CEO Hasnur Group, Zainal Hadi HAS HB, menegaskan bahwa kekuatan utama perusahaan adalah manusia.
Ia menyebut aset fisik bukan jaminan keberhasilan jangka panjang.
“Memiliki aset atau fasilitas besar bukan jaminan keberhasilan. Fondasi utama kita adalah people. Dalam situasi yang tidak mudah, justru di situlah kita diuji untuk menjadi tim yang solid dan terus bertumbuh,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan arah strategi perusahaan.
Fokus pada SDM dinilai sebagai investasi jangka panjang.
Dengan tim yang kuat, perusahaan diyakini mampu menghadapi berbagai perubahan.
Dalam konteks industri, pendekatan ini semakin relevan.
Banyak perusahaan global kini menempatkan pengembangan manusia sebagai prioritas.
Transformasi digital dan perubahan pasar menuntut keterampilan baru serta budaya kerja adaptif.
Penguatan transparansi dan inovasi internal
Selain fokus pada budaya dan kepemimpinan, Hasnur Group juga memperkuat tata kelola melalui peluncuran Whistle Blowing System (WBS).
Sistem ini menjadi kanal resmi untuk melaporkan dugaan pelanggaran secara independen dan rahasia.
WBS dirancang untuk melindungi pelapor dari tindakan balasan.
Sistem ini sekaligus menegaskan komitmen perusahaan terhadap Good Corporate Governance, integritas, dan transparansi.
Langkah tersebut dinilai penting di tengah meningkatnya tuntutan akuntabilitas perusahaan.
Publik dan pemangku kepentingan kini menaruh perhatian besar pada transparansi.
Karena itu, perusahaan perlu memastikan sistem pengawasan berjalan efektif.
Hasnur Group juga memperkenalkan Knowledge & Innovation Management System.
Platform ini bertujuan mengelola pengetahuan dan mendorong inovasi di seluruh entitas.
Dengan sistem ini, perusahaan berharap ide dan pengalaman karyawan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Program Culture Activation turut diluncurkan.
Program ini mencakup pembentukan taskforce intervensi budaya dan culture agent.
Peran mereka adalah memastikan nilai perusahaan benar-benar diterapkan dalam aktivitas kerja sehari-hari.
Kegiatan Townhall diikuti lebih dari 400 karyawan dari berbagai entitas.
Acara ditutup dengan pemberian penghargaan kepada karyawan berprestasi dalam pembelajaran.
Penghargaan ini menjadi simbol pentingnya pengembangan kompetensi berkelanjutan.
Langkah-langkah yang diambil Hasnur Group menunjukkan fokus pada kesiapan jangka panjang.
Perusahaan tidak hanya menargetkan pertumbuhan bisnis.
Mereka juga memperkuat fondasi internal agar tetap adaptif.
Di tengah ketidakpastian global, strategi berbasis manusia dan tata kelola dinilai sebagai pendekatan realistis.
Perusahaan yang mampu menjaga budaya dan transparansi biasanya lebih tahan terhadap krisis.
Townhall 2026 menjadi sinyal bahwa Hasnur Group bersiap menghadapi tahun penuh tantangan.
Dengan konsolidasi internal, penguatan budaya, dan inovasi sistem, perusahaan berupaya menjaga arah pertumbuhan yang berkelanjutan.