Bedah Robotik ala dr. Sita Arumi: Teknologi untuk Memanusiakan Tubuh Perempuan
- Istimewa
Siap – Di ruang operasi, teknologi kini bukan sekadar alat bantu dokter.
Ia menjadi jembatan antara kecanggihan medis dan kemanusiaan.
Hal itu diwujudkan oleh dr. Sita Ayu Arumi, dokter kandungan yang memelopori penggunaan laparoskopi 3D dan bedah robotik untuk menangani gangguan reproduksi perempuan di Indonesia.
Dengan sayatan kecil setengah sentimeter, metode ini mempercepat pemulihan pasien dan mengurangi trauma psikologis.
“Ada pasien saya yang tiga hari setelah operasi langsung bisa bekerja ke luar negeri,” kata dr. Sita, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 16 Oktober 2025.
Robotik: Standar Baru Kecanggihan dan Empati
Teknologi robotik membuka standar baru dalam dunia medis.
Visualisasi 3D beresolusi tinggi membuat dokter seolah masuk langsung ke tubuh pasien.
Sistem pivot point pada robot mengurangi gesekan di dinding perut sehingga nyeri berkurang signifikan.
“Presisinya luar biasa. Dokter bisa bekerja lebih detail tanpa cepat lelah, sementara pasien merasakan pemulihan yang lebih cepat,” jelas dr. Sita.
Bagi Sita, robotik bukan sekadar simbol kecanggihan.
“Robot ini bukan untuk gaya-gayaan. Ia hadir untuk mengurangi penderitaan pasien,” ujarnya.
Bedah robotik menawarkan pendarahan minimal, nyeri ringan, waktu rawat singkat, dan posisi kerja ergonomis bagi dokter.
Kasus kompleks seperti mioma multipel, kista, hingga endometriosis berat kini bisa ditangani lebih aman.
Harapan Pemerataan Akses Bedah Robotik
Namun, inovasi ini masih terbentur biaya tinggi.
Perangkat robotik harus diimpor dan baru tersedia di rumah sakit swasta dengan tarif tinggi.
“Bukan karena dokter atau rumah sakit ingin mahal, tapi karena alatnya memang eksklusif,” kata Sita.
Ia berharap pemerintah menyediakan fasilitas robotik di rumah sakit negeri.
“Minimal satu atau dua robot di tiap provinsi supaya bukan hanya orang berduit yang bisa merasakan,” ujarnya.
Kesehatan Perempuan dan Martabat
Lebih dari sekadar operasi, bedah robotik adalah cara memulihkan martabat perempuan.
Sita sering menemui pasien yang dihantui stigma dan trauma akibat masalah kesuburan, meski penyebab sering dari pihak laki-laki.
“Dengan teknologi ini, saya ingin perempuan tidak lagi takut pada operasi. Mereka bisa pulih lebih cepat, tetap punya harapan untuk punya anak, dan terbebas dari trauma,” katanya.