Moskow dan Beijing Kompak Bela Iran, Ada Apa di Balik Sikap Ini?

Iran didukung Rusia & China
Sumber :
  • Istimewa

Siap – Persoalan program nuklir Iran kembali menjadi titik panas dalam hubungan antara Teheran dan negara-negara Barat.

img_title Iran Balik Menekan AS, Selat Hormuz Jadi Kartu Penting di Meja Diplomasi

Di tengah tekanan Amerika Serikat agar Iran menghentikan aktivitas nuklirnya, Rusia dan China justru menunjukkan sikap berseberangan dengan Washington.

Moskow dan Beijing sama-sama menegaskan bahwa Iran tetap memiliki hak untuk mengembangkan energi nuklir bagi kepentingan damai selama menjalankan kewajibannya berdasarkan hukum dan perjanjian internasional.

img_title AS dan Iran Kembali Memanas, Konflik Kini Tak Lagi Sekadar Perang Terbuka

Rusia bahkan secara terbuka menolak anggapan bahwa Iran harus meninggalkan program nuklirnya. 

Wakil Tetap Rusia untuk Organisasi Internasional di Wina, Mikhail Ulyanov, menyebut hak Iran untuk menggunakan teknologi nuklir secara damai sebagai hak yang tidak dapat dicabut.

img_title Trump Kerahkan 9 Ribu Pasukan AS, Iran Siaga Satu: Perang Besar Bukan Gertakan?

Pernyataan tersebut disampaikan Ulyanov melalui unggahan di X sebagai respons terhadap sikap Washington terkait aktivitas pengayaan uranium Iran.

"Iran tidak berkewajiban untuk meninggalkan program nuklirnya. Ini adalah hak Iran yang tidak dapat dicabut," ungkap Ulyanov dikutip dari Tehran Times pada Minggu, 4 Oktober 2026.

Ulyanov juga mengecam posisi Amerika Serikat yang menurutnya dibangun berdasarkan "asumsi yang keliru" mengenai aturan nonproliferasi nuklir dan mandat Badan Energi Atom Internasional atau IAEA.

Sikap Rusia tersebut muncul setelah Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menuding Iran telah "melanggar aturan" karena melakukan pengayaan uranium hingga tingkat 60 persen.

Washington selama ini menjadikan aktivitas pengayaan uranium Iran sebagai salah satu alasan utama untuk mempertahankan tekanan terhadap Teheran.

Namun, Rusia memiliki pandangan berbeda.

Moskow secara konsisten menyatakan bahwa program nuklir Iran ditujukan untuk kepentingan damai dan tidak semestinya dijadikan alasan untuk meningkatkan tekanan maupun konfrontasi.

Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menyampaikan posisi tersebut dalam forum Valdai pada Kamis.

Dalam kesempatan itu, Putin mengatakan proposal Rusia terkait pemindahan uranium Iran yang telah diperkaya ke Rusia masih tersedia.

Menurut Putin, gagasan tersebut sebelumnya sempat mendapatkan persetujuan dari Amerika Serikat. 

Namun, posisi Washington kemudian berubah dan menjadi lebih ketat sehingga proposal tersebut akhirnya ditolak.

"Jika semua pihak dalam proses ini pada akhirnya menyimpulkan bahwa hal tersebut dapat membantu meredakan ketegangan, kami siap terlibat dalam pekerjaan tersebut," ucap Putin.

Halaman Selanjutnya
img_title