Iran Tegaskan Siap Lanjut Perang dengan AS Meski Berujung Kiamat
- Istimewa
Siap – Republik Islam Iran menegaskan, bahwa mereka sama sekali tidak gentar dengan ancaman serangan susulan yang digaungkan Amerika Serikat.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, Teheran justru menegaskan perang belum usai dan mereka kini siap melayangkan pukulan balasan.
Tak hanya itu, pejabat militer Iran bersumpah akan terus memburu serta menghukum Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Mereka bahkan menyatakan siap menghadapi konfrontasi terburuk meskipun harus berujung pada perang kiamat.
Lantas seperti apa update terkini di kawasan Timur Tengah? Berikut ulasannya.
Upaya menghentikan peperangan di wilayah Teluk kembali menemui jalan buntu.
Wall Street Journal pada Jumat, 25 September 2026 melaporkan, Trump secara tegas menolak usulan gencatan senjata selama 7 hari yang diajukan Teheran.
Pernyataan ini ditegaskan kembali Trump di hadapan wartawan pada Sabtu, 26 September 2026.
Ia mengeklaim Republik Islam mengajukan penawaran itu karena posisi militer mereka sedang sangat mendesak.
Padahal dalam proposal 7 hari tersebut, Iran menawarkan formula diplomasi yang konkret.
Teheran bersedia membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz dan siap memulai kembali negosiasi program nuklir yang sempat terhenti.
Namun, Republik Islam mengajukan beberapa syarat utama meliputi pencabutan blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Kemudian AS harus mencabut sanksi ekspor minyak serta mencairkan aset negara sebesar 12 miliar dolar AS atau sekira Rp215 triliun yang dibekukan.
Perundingan ini sebenarnya dimediasi oleh negara Qatar di sela-sela sidang Majelis Umum PBB di New York.
Akan tetapi, Gedung Putih memilih untuk tetap mempertahankan sanksi ekonomi dan blokade maritim.
Menurut Al Jazeera, Trump percaya waktu berada di pihaknya.
Sementara itu, Profesor rekanan dari Kings College London, Andreas Krieg menilai Trump menganggap tawaran Iran sebagai bukti kelemahan.
Donald Trump sengaja menunda kesepakatan untuk menekan Teheran agar memberikan konsesi yang jauh lebih besar.
Pakar dari NATO Defense College, Richard Weitz juga menilai Washington ingin mengulang skenario tahun 2015.
Saat itu, tekanan ekonomi yang berat akhirnya memaksa Teheran melunak dalam perjanjian nuklir.
Namun, Republik Islam kini menegaskan sikap yang berbeda.