Kenapa AS Galak Terhadap Mitra Dagang Iran tapi Ciut dengan China? Ini Sebabnya
- Istimewa
Siap – Amerika Serikat membuktikan ancamannya dengan memulai perang ekonomi skala besar demi menghantam Republik Islam Iran.
Terkait hal itu, AS juga telah memasifkan pengaruhnya ke sejumlah negara yang diketahui bermitra dengan Teheran.
Namun demikian, sikap gahar Washington nyatanya tak berlaku untuk China.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, Amerika Serikat telah mulai melancarkan serangan ekonomi paling agresif sepanjang sejarah ke Iran.
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent menyebutnya sebagai operasi pengasingan ekonomi.
Puluhan perusahaan dijatuhi sanksi. Ancaman dilayangkan ke setiap negara yang masih berbisnis dengan Teheran, Iran.
Rusia, China dan Iran makin kompak
- Istimewa
Namun di balik gemuruh retrorika keras itu, ada satu nama yang sengaja tak disebut Scott Bessent, yakni China.
Padahal Cina adalah urat nadi ekonomi Teheran yang membuatnya bertahan dari tekanan Amerika Serikat selama bertahun-tahun.
Bahkan Tiongkok telah menjadi pembeli terbesar minyak Iran.
Tapi Washington memilih tak menyentuhnya secara langsung. Kenapa AS seolah enggan mengusik Beijing?
Sanksi AS Incar Mitra Teheran
Sejak Senin, 24 Agustus 2026, Departemen Keuangan Amerika Serikat resmi meluncurkan gempuran sanksi terbesar yang pernah diarahkan ke Republik Islam.
Melansir dari The Wall Street Journal, lebih dari 60 entitas perusahaan langsung kena hantam.
Mulai dari perusahaan yang membantu Iran memperoleh teknologi nuklir dan rudal, hingga jaringan yang menggerakkan operasi siber dan mengalirkan pendapatan minyak ke Teheran.
Ini bukan kali pertama AS bertindak seperti itu. Sejak Trump kembali berkuasa tahun lalu, sudah lebih dari 1000 sanksi dijatuhkan ke Republik Islam.
Sanksi tersebut dibarengi operasi militer dan blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan utama Republik Islam.
Hasilnya terlihat nyata. Ekonomi Teheran terpukul. Mata uangnya anjelok tajam.
Potret ilustrasi Selat Hormuz.
- Gemini AI
Tapi di tengah gempuran sanksi ekonomi itu, sikap militer agresif Iran di Timur Tengah tak kunjung merubah.
Ambisi nuklir Teheran belum juga surut membuat Washington harus memperluas sasaran sanksinya.
Perburuan ini pun merambah ke jaringan yang lebih kecil. Perusahaan-perusahaan fiktif yang selama ini jadi perantara diburu satu persatu.
Dari Hongkong, China, Uni Emirat Arab hingga Turkiye. Tapi polanya selalu sama.