UI dan NUS Kolaborasi Kurangi Karbon

UI dan NUS diskusi
Sumber :
  • istimews

Siap- Universitas Indonesia (UI) dan National University of Singapore berkolaborasi menggelar diskusi “Sustainability day: Sustaining Carbon, Sustaining Life” di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI, Depok.

 

Diskusi ini digelar sebagai upaya untuk mengurangi karbon serta mengajak masyarakat memahami dampak emisi karbon terhadap perubahan iklim, baik secara nasional maupun internasional.

 

Karbon tetap menjadi tantangan terbesar bagi Indonesia untuk ditekan. Indonesia menempati peringkat ke-42 pada Climate Change Performance Index, yang menunjukkan performa perlindungan iklim yang rendah.

 

Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan, Nurul Isnaeni menjelaskan, keberlanjutan bukan hanya soal tren, tetapi juga hasil kesepakatan global sejak tahun 1992 di Rio de Janeiro. Dunia berkomitmen menyeimbangkan tiga kepentingan penting, yakni ekonomi, sosial, dan ekologis.

 

“Bagi kita di kampus, sebagai mahasiswa adalah agen perubahan. Peran generasi muda dalam memastikan keberlanjutan sangat krusial. Jika tidak ada kesadaran kolektif, konsep sustainabilit y hanya akan jadi kata- kata manis tanpa tindakan nyata. Harapannya dari forum ini, para mahasiswa semakin paham isu lingkungan dan energi, dan terlibat aktif, karena semangat keberlanjutan harus terus diwariskan dan dijaga,” katanya, Rabu (15/10/2025).

 

Climate and Energy Lead at World Wide Fund for Nature Indonesia, Ari Mochamad mengatakan, manusia saat ini sedang hidup di masa ketika perubahan lingkungan fisik berlangsung jauh lebih cepat dari kemampuan manusia untuk beradaptasi. Eskalasi emisi gas rumah kaca, lanjutnya, membuat magnitudo bencana semakin besar, frekuensinya makin sering, dan intensitasnya makin tinggi.

 

“Itulah sebabnya dunia menetapkan target menahan kenaikan suhu global di bawah 2 derajat Celcius, idealnya 1,5 derajat Celcius. Karena bagi negara-negara kepulauan kecil, 2 derajat Celcius berarti tenggelam, betapa pun baik mereka mengelola lingkungannya. Saat ini, suhu global sudah naik sekitar 1,1 derajat Celcius. Artinya, kita berpacu dengan waktu,” katanya.

 

Dia pun menyarankan dua pendekatan, yaitu mitigasi dan adaptasi. Mitigasi adalah upaya menekan sumber emisi seperti ketergantungan pada energi fosil; sedangkan adaptasi adalah upaya menyesuaikan diri dengan perubahan yang sudah terjadi.

 

“Maka isu ini menjadi tanggung jawab bersama untuk menjadikan aksi nyata, bukan hanya retorika, jika kita tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan ekosistem dan masyarakat rentan serta menjaga pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” ujarnya.